INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 05 Desember 2008

NKRI Intruders

Oleh Heri Hidayat Makmun

Saya mengalami kekuatiran yang sangat dalam terhadap keutuhan bangsa ini. Bukan hal yang tidak mungkin lagi bagi anak bangsa yang prihatin dan memiliki kekuatiran yang tinggi terhadap resiko perpecahan pada NKRI. NKRI yang sulit dibangun dengan segala jerih payah dan cucuran darah para pahlawan kesuma bangsa kita digoyang dan dilepaskan emur keeratan kebangsaan dan nasionalisme kita dengan berbagai upaya yang sistemastis.

Mereka merangsak masuk pada sendi-sendi kekuatan kita dan melumerkan baja persatuan bangsa kita. Bagaikan virus yang menggerogoti pemikiran kita sendiri untuk pada akhirnya memberikan simpati pada usaha mereka. Seperti yang terjadi pada Timtim.

Hanya kebulatan tekad kita yang dapat meredam usaha-usaha tangan jahil imperialis yang masuk dan memecah belah, seperti cara-cara politik lama Belanda, devide et empera. Mereka berusaha memecah kita baik dari usaha di dalam dan diplomasi diluar. Negara adidaya mereka dekati dan negara tetangga yang berbatasi mereka kunjungi.

Mereka yang berusaha memecah-mecah dari dalam ini, berusaha secara sistematis untuk memberikan selalu peluang pada separatis RMS dan OPM. Para pemberontak ini jangan dianggap telah mati. Usaha-usaha mereka telah merangsak masuk justru pada sendi-sendi kekuatan kita.

Penerimaan personil baru TNI mulai distop, persenjataan yang usang tidak kunjung diperbaharui. Selain karena embargo senjata Amerika Serikat pada RI, juga dari gedung DPR melakukan embargo terhadap kucuran anggaran untuk pembelian senjata-senjata baru.

Kesejahteraan TNI terus tidak diperhatikan sementara dilain sisi justru Polri malah akan lebih disejahterakan. LSM asing makin bergerak bebas keluar masuk gedung DPR dan berbagai akses yang bertujuan melemahkan TNI. Garda terdepan pertahanan kita!

Konsolidasi mereka diluar semakin matang, Senat-senat Amerika Serikat yang dulu memberikan sokongan dan dukungan kepada NKRI mereka dekati. Berbagai LSM asing yang sebenarnya independent di propokasi dan dimasuki pemahaman baru.

Situs para senator AS ini secara terang-terangan mereka tidak pernah mengakui tentang keberadaan separatis OPM. Seperti tulisan saya yang beberapa waktu yang lalu yang berjudul “Tidak Ada Dukungan Internasional Terhadap OPM” yang kemudian dilink dan dibahas secara khusus pada situs OpenCongress.net yang merupakan situs tidak resmi para Senator AS. Tetapi perkelahian pemahaman dan ide paling bekecamuk justru pada situs ini. Pemikiran para senator lebih berani mereka ungkapkan disini.

Konsep memecah NKRI tidak dilakukan secara tiba-tiba dan untuk waktu jangka pendek, tetapi dilakukan untuk waktu yang sulit ditentukan, untuk berbagai misi yang cukup luas. Para ujung tombak mereka adalah LSM-LSM yang bergerak bebas di Indonesia. Dengan alasan menggelorakan semangat demokrasi, HAM, kesetaraan, gender dan sebagainya. Mereka dapat dengan leluasa memberikan pengaruh para berbagai elemen organisasi, dari yang paling vocal yaitu anak-anak mahasiswa kita sampai pada yang paling konservatif secara pemikiran dari kalangan Bapak-bapak kita yang duduk di DPR.

Semestinya kita bercermin pada kejadian dan sejarah berdirinya RI ini yaitu pada saat pecahnya perlawanan local yang dilakukan gerakan separatis RMS yang terdiri dari para mantan KNIL pada masa penjajahan Belanda.

Pada November 1957 berbagai agen asing mulai masuk dan melakukan infiltrasi pada wilayah nusantara tanpa sepengetahuan TNI. Markas besar operasi ini berada di Singapura dengan restu dari Inggris dan melakukan basis militer di Filipina.

Puluhan ribu orang bersenjata dipersiapkan, dengan mentransfer senjata melalui udara yang dilakukan oleh pesawat-pesawat B.26 pada berbagai daerah yang akan menjadi basis konflik-konflik. Semua pesawat, senjata dan orang-orang yang melakukan gerakan infiltrasi dibersihkan dari berbagai atribut. Senjata yang terlihat jelas pabrik mana sedikit dimodifikasi.

Pada bulan Januari 1959 berbagai gerakan bersenjata illegal tersebut mulai berkobar di salah satu wilayah, yang kemudian menyebar pada daerah-daerah lainnya. Pesawat-pesawat asing melakukan semakin sering melakukan penerbangan diwilayah Nusantara. Bahkan merekak melakukan pengemboman pada tempat-tempat yang diduduki oleh TNI.

Pemimpin pemberontak Kolonel Alex Kawilarang mulai banyak melakukan aksi-aksi yang berani, akibat backing yang kuat diberbagai wilayah perbatasan dan diwilayah RI sendiri. Mereka yang didukung oleh pesawat-pesawat asing terseebut sudah mulai berani melakukan pengemboman di Ambon pada tanggal 15 Mei 1959, yang mengakibatkan terbunuhnya rakyat sipil.

Dalam pengeboman berikut di Ambon sebuah pesawat yang dikendarai oleh seorang pilot asing Allen Lawrence Pope tertembang jatuh. Pope yang berasal dari Perrine, Florida yang telah melakukan 55 kali dari berbagai misi infiltrasi diwilayah RI ini diamankan. Kemudian ia mendekam dipenjara RI selama 4 tahun. Pada akhirnya Sukarno mengampuninya atas permintaan Jaksa Agung Robert Kennedy.

Peran CIA di Indonesia benar-benar dapat ditelanjangi oleh dokumen yang di bawa Pope. Sebenarnya Pope dilarang keras untuk selalu membawa dokumen-dokumen rahasia dalam berbagai misinya. Tetapi Pope sadar bahwa tanpa dokumen dan identitas kewarganegaraan, maka ia akan kehilangan hak hukum sama sekali.

Pada tanggal 27 Mei 1959 Pemerintah Indonesia membawa material dokumen tersebut ke konferensi dunia. Dokumen ini menjungkirbalikkan pernyataan resmi pejabat-pejabat pemerintah AS. Salah satunya adalah pernyataan Eisenhower pada tanggal 30 April yang mengatakan bawah “kebijakan kami adalah bersikap netral dan melakuakan hal-hal yang sepantasnya sedemikian rupa sehingga kami tidak akan mengambil bagian dari apa yang bukan urusan kami.”

Itu pola-pola lama pihak asing meruntuhkan NKRI. Dalam tahap kontemporer ini peran-peran pemberontakan local bersenjata sudah dikurangi. Kecuali kemungkinan pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh separatis RMS dan GPM.

Peran LSM-LSM dan akses-akses informasi mulai di optimalkan. Pembentukan opini massa menjadi agenda penting sekarang. Keberhasilan pola-pola seperti ini berdasarkan pengalaman masa lalu ketika terjadi perseteruan Amerika Serikat VS Uni Soviet yang saling berebut pengaruh. Seperti kontroversi tentang Adam Malik yang direkrut CIA dan sebagainya.

Terlepas benar tidaknya Adam Malik yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Perdagangan di jadikan sebagai titik tumpu misi-misi CIA dalam memberantar Partai Komunis, tetapi peran CIA di Indonesia hamper-hampir sulit untuk ditolak.

Buku kontroversi Weiner yang berjudul “Membongkar Kegagalan CIA” yang menjelaskan keterlibatan Adam Malik sebagai agen dalam stasiun CIA di Jakarta. Seperti yang ditulis Weiner dalam bukunya: "Stasiun CIA di Jakarta memiliki seorang agen yang punya posisi baik: Adam Malik, mantan Marxis berusia 48 tahun". "Saya merekrut dan mengontorol Adam Malik. Ia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut". Menurut Weiner pernyataan ini berasal dari perwira CIA Clyde Mc Avoy dalam wawancara dengan Weiner pada 2005.

Weiner menjelaskan tentang peran Adam Malik dalam memberantas Gerakan 30 September yang ia menurut Weiner dalam bukunya tersebut ia kutip dari dokumen-dokumen CIA yang menyebutkan Adam Malik pernah menerima uang senilai US$ 100 atau sekitar Rp 50 juta pada saat itu guna memberantas gerakan Partai Komunis ini.

Cara-cara lain yang tentunya harus menjadai ancaman NKRI yang harus terus diwaspadai adalah dengan pencaplokan wilayah dengan memanfaatkan kelemahan kita dari sisi hukum internasional. Seperti Sipadan dan Ligitan yang telah lepas dari NKRI. Kelanjutan dari Episode ini adalah Ambalat. Perseteruan blok Ambalat yang berada di perairan karang Unarang Laut Sulawesi masih terus menjadi agenda penting dalam episode krisis hubungan Indonensia – Malaysia. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengklaim sebagai pemilik blok yang diperkirakan kaya akan kandungan minyak tersebut.

Pemerintah Indonesia harus menentukan lebih dahulu letak koordinat geografis sebagai bahan dalam proses perundingan jika seandainya perseteruan ini harus diselesaikan melalui jalur litigasi. Memang betul bahwa Blok Ambalat berjarak lebih dari 12 mil dari garis pantai Indonesia, tetapi Ambalat masih menjadi milik Indonesia dengan berpatokan pada landas kontinen.

Kepahaman dan kemampuan diplomasi dalam penerapan hukum-hukum internasional yang berkaitan dengan perbatasan antar negara penting untuk dikuasai sebelum duduk di meja perundingan. Pemerintah harus terus menerus melakukan aktivitas di pulau tersebut sebagai bagain dari bukti-bukti hukum yang akan menguatkan posisi Indonesia.

Praktek lain untuk mengganggu NKRI adalah dengan sabotase ekonomi yang terus dilakukan mafia ekonomi yang menggerogoti rupiah dan devisa dolar kita manjadi bagian yang cukup efektif melemahkan kita. Mafia-mafia ini karena terbukti keefektipannya, dikembangkan menjadi mafia yang bergerak di bursa, mafia minyak, mafia distribusi pupuk dan sebagainya. Mafia ini menjadi suatu simbiosis antara para penjahat ekonomi dan penjahat politik.

Dipentas politik yang penuh citra mereka juga bergerak dengan semboyan presiden muda dan sebagainya. Peran-peran meraka ini akan menjadi terminal dari segala misi mereka yang lain.

Para intruders ini melakukan gerakan yang terus meneruskan melemahkan NKRI. Regenerasi menjadi perhatian yang besar. Generasi muda kita mulai dicekoki oleh misi-misi hedonisme, sekulerisasi, anti nasionalisme, rasa rendah diri berbangsa Indonesia kepada anak bangsa pewaris kita. Memperkecil peran agama, memperkecil peran cendikiawan pribumi Indonesia, melakukan fitnah kepada para tokoh-tokoh agama, tokoh nasionalis dan para pembesar TNI.

Cara-cara infiltrasi lama yang sudah konyol benar-benar mereka tinggalkan. Pergolakan bersenjata kedaerahan yang dulu mereka kembangkan terbukti tumpul untuk memecah NKRI. Bangsa Indonesia mulai menghadapi cara-cara baru yang lebih berbahaya. Ini menjadi tanggungjawab para seluruh Pemuda Indonesia.

Kendorkan pengaruh asing yang ingin mengoyang NKRI kita. Jangan pilih partai yang melakukan kontak asing, jangan pilih pemimpin yang menjadi boneka asing, kuatkan peran bangsa sendiri. Bangun kemandirian bangsa. Jangan berikan kekayaan mineral nusantara kepada asing.

Hentikan tayangan hedonisme di televise, dan beri kesempatan ruh nasionalisme mengalir kepada generasi bangsa kita. Kuatkan TNI, beri senjata baru yang canggih. Perbanyak kapal patroli di wilayah nusantara kita. Stop liberalisasi perdagangan, jangan serahkan asset strategis bangsa ke asing. Ikut arus global bukan berarti bersedia dibodohi!

Pemerintah Indonesia juga harus rajin memberikan apresiasi terhadap berbagai upaya positif yang dilakukan oleh Negara-negara tetangga kita seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Papua Nugini yang menyarankan agar OPM mengikuti jejak seperti yang dilakukan oleh GAM. Tetapi sebaliknya juga Pemerintah harus cepat tanggap terhadap berbagai langkah dan intrik yang kurang baik dari tetangga kita, seperti pemberian izin kepada anggota OPM yang masuk ke Australia.

Pemerintah kita juga harus secepatnya menyelesaikan draf Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional (RUU Kamnas) yang akan diajukan oleh Departemen Pertahanan. Pemerintah harus benar-benar spesifik dalam mendifinisikan terminologi Keamanan Nasional sekaligus juga pihak mana yang akan terlibat dalam penanganannya, seperti yang diungkapkan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti.

Undang-Undang Kamnas nanti harus benar-benar bermanfaat dalam melindungi pulau-pulau Nusantara dari pihak intruders, baik sparatisme, pencaplokan wilayah atau gangguand dari dalam. Undang-Udang ini jangan dimanfaatkan oleh hegemoni asing yang justru merugikan pihak Indonesia. Indonesia harus mandiri dalam mengatur dan mengendalikan keamanan dalam wilayah Indonesia sendiri. Kita berada di antara negara-negara yang masih memiliki potensi untuk melakukan klaim atas wilayah kita.

Selain itu aspek lain juga yang perlu dibenahi adalah mengenai kesejahteraan rakyat yang berada jauh dari Jakarta. Kesejahteraan masyarakat yang berada digaris perbatasan memiliki dampak politik politik yang sangat besar, seperti masyarakat di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia. Wilayah nusantara berbatasan selalu lebih memiliki potensi untuk bergolak dan berpisah. Keadilan dan kesejahteraan saudara kita ini penting artinya untuk keutuhan NKRI.

Perbaiki kualitas pendidikan, masukkan semangat nasionalisme dalam kurikulum kita. Bangsa kita tidak perlu terlalu pintar tetapi bermoral penjajah Belanda. Merahkan darah generasi kita dengan darah pejuang ’45. Perbanyak kibaran bendera merah putih pada seluruh wilayah nusantara kita. Buat kewajiban itu kepada semua kantor pemerintah kita. Perbanyak dengungkan lagu-lagi wajib penggugah semangat kita, tidak hanya pada acara-acara 17-an. Buatkan jam wajib pada televise-televisi kita untuk memperdengarkan lagu-lagu itu, yang membantah jangan-jangan bagian dari intruders. Merdeka!.. Hidup NKRI!

2 komentar:

lusiedulink mengatakan...

wah tulisan yang tajam dan mendalam bro

taris mengatakan...

Bagi masyrakat Indoensia, harga diri bangsa merupakan harga mati, apa bila terkait dengan pelecehan bangsa dan budayanya masyarakat langsung memberikan reaksi, hal ini dpt dilihat pada waktu ilan tari pendet.., klaim budaya oleh bangsa lain, klaim pulau dan tapal batas maupun pelecehan TKI dinegara lain.
Tinggal para pemimpinnya yang masih......
NKRI harga mati.....

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta