INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 14 Desember 2008

Jenderal Vo Nguyen Giap Memerdekakan Vietnam dari Invansi Prancis dan Amerika Serikat

Oleh Rusman Danar



Vo Nguyen Giap mantan jurnalis sebelum menjadi bagian dari Tentara Rakyat Vietnam (Vietnam People's Army) yang lahir pada 25 Agustus 1911. Selama berdinas di militer perannya sangat besar bagi kemerdekaan Vietnam atas invansi Prancis dan Amerika Serikat.

Pengalamannya dalam medan tempur mulai dari perang Indochina I (1946 – 1954 ), Perang Indochina II ( 1960 – 1975 ), Pertempuran Lang Son ( 1950), Hoa Binh (1951 – 1952), Dien Bien Phu (1954), Tet Offensive (1968), Nguyen Hue Offensive atau Easter Offensive (1972), hingga Kampanye Ho Chi Minh (1975).

Insting Vo Nguyen Giap terkenal paling tangguh dilapangan. Strategi perang gerilia yang sporadic pada wilayah yang luas dan memanfaatan kondisi alam merupakan cirri utama Pahlawan Kemerdekaan Vietnam ini. Menyadari teknologi persenjataan musuh jauh lebih unggul, maka penerapan strategi yang tepat dapat mengimbangi, bahkan kecerdikan Giap tetap dapat mengungguli musuh-musuhnya yang bersenjata berat.

Pada tahun 1950 pertempuran tentara Vietnam melawan tentara Prancis di Sungai Merah yang membuat pasukan Prancis dapat dipukul mundur dan memaksa Prancis menempuh jalur diplomasi yang tidak digubrik oleh Ho Chi Minh sang Pemimpin Revolusi Vietnam.

Kemenangan ini membangun optimisme, rasa nasionalisme dan kepercayaan diri para prajurit Viet Minh dan rakyat Vietnam dalam meraih kemerdekaannya. Sayangnya membaranya nasinalisme ini mengakibatkan terjadinya perlawanan prontal rakyat Vietnam yang berakibat pada banyaknya korban yang sia-sia, karena persenjataan musuh jauh lebih canggih.

Untuk menangani hal ini Gaip banyak melakukan latihan terhadap rakyat Vietnam yang dapat menjadi perlawanan rakyat semesta.

Dengan menggunakan memanfaatkan Delta Sungai Merah Giap juga berhasil memukul mundur Prancis yang akhirnya mundur sampai ke Laos. Kondisi terdesak ini membuat Jenderal Prancis Hendri Navarre meminta bantuan tambahan pasukan yang besar. Akhirnya Pasukan Prancis bertambah menjadi 90.000 pasukan pada perang Perang Indocina I ini.

Untuk menahan pasukan Prancis yang akan melakukan konsolidasi antara pasukan yang berada di Laos dan di daratan Vietnam, Prancis banyak melakukan serangan udara besar-besaran ke posisi di Dien Bien Phu, tetapi usaha Prancis ini masih tumpul, karena usaha Giap dan tentaranya untuk menahan gerak maju Pasukan Prancis untuk kembali mamasuki daratan Vietnam dengan mempergunakan persenjataan howitzer caliber 105 mm yang diperoleh dari China sebagai anti serangan udara. Selain itu Pasukan Giap membangun juga parit-parit pertahanan di Dien Bien Phu.

Untuk menghentikan serangan udara Prancis, Giap banyak melakukan serangan gerilya yang bertujuan menghancurkan landasan-landasan udara dan insprastruktur vital pasukan Prancis. Kemampuan medan yang dimiliki oleh tentara rakyat Vietnam benar-benar bermanfaat untuk menghadapi pasukan Prancis.

Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1954 Giap merencanakan serangan yang cukup besar terhadap posisi-posisi Pasukan Prancis yang berada di Dien Bien Phu dan sekitarnya. Pertempuran yang memakan waktu 56 hari tersebut akhirnya berhasil memukul mundur Pasukan Prancis dan terkonsentrasi di suatu wilayah Benteng Dien Bien Phu. Tanggal 7 Mei 1954 Denbienphu jatuh ke tangan Vietnam. Sebanyak 7.000 tentara Prancis tewas dan 11.000 tertawan. Kekalahan ini mengakibatkan Prancis pulang kenegaranya dengan tangan hampa.

Dampak kemenangan Vietnam pada perang terhadap penjajahan Prancis ini sangat besar. Negara-negara terjajah seolah mendapat kepercayaan diri baru untuk bisa mengusir penjajah. Terutama negara-negara di Asia dan Afrika.

Selesai Prancis yang berhasil diperdaya oleh Vietnam giliran AS masuk untuk menggantikan posisi Prancis sebagai satu sekutu. Amerika berkeinginan membendung pengaruh komunis di wilayah Asia Tenggara. Momentum untuk menghadap komunis yang dibentengi oleh Uni Soviet dan China merupakan saat-saat yang dinantikan oleh pihak sekutu.

Belajar dari pengalaman Prancis maka Amerika Serikat (AS) tidak tanggung-tanggung membawa sebanyak 492.000 tentara ke daratan Vietnam Selatan, tetapi jumlah tentara yang banyak dan persenjataan yang canggih tidak membuat Giap gentar. Keyakinan Giap terhadap kemampuan tentara rakyat Vietnam terhadap kondisi alamnya sendiri tetap menjadi modal utama. Selain itu dukungan dari rakyat yang siap melakukan pertahanan semesta menjadi kunci kekuatan Vietnam.

AS yang datang dengan sangat percaya diri dan berkeyakinan dapat melumpuhkan Vietnam Utara dengan waktu cepat pada awalnya terpaksa harus kecewa, karena misi demi misi yang terjadi hanyalah aksi-aksi pembantaian tentara AS dihutan-hutan Vietnam. Strategi gerilya yang dilakukan oleh Giap tetap efektif untuk terus-menerus merongrong kekuatan lawan.

Inisiatif dalam medan pertempuran tetap berada di tangan tentara rakyat Vietnam yang lebih dikenal dengan tentara Vietkong ini. Tentara AS tidak memiliki posisi-posisi yang aman. Pergerakan dalam hutan harus dilakukan terus menerus siang dan malam. Kekurangan istirahat dan suplai makanan. Hutan-hutan Vietnam penuh dengan jebakan yang membunuh, sehingga harus terus-menerus terjaga dan waspada. Mereka menjadi sangat letih dan frustrasi.

Selain itu perjuangan diplomasi Vietnam di dunia menjadi semakin kuat. Apalagi di Amerika Serikat sendiripun terjadi kontroversi yang hebat terhadap misi tentara AS di Vietnam. Tekanan hebat didalam negeri AS sendiri benar-benar meruntuhkan moral tentara AS di Vietnam.

Akhirnya misi-misi AS dilakukan dengan operasi serangan udara besar-besaran. AS melakukan pengeboman dan pengguyuran zat kimia mematikan. Antara tahun 1662 dan 1971, AS menumpahkan 19 juta galon racun tanaman (herbisida) di Vietnam, dan yang paling ganas adalah 12 juta galon agent orange (herbisida dengan kadar racun yang sangat kuat), yang mengandung dioksin, racun yang merusak pusat susunan syaraf dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh, menyebabkan kanker, diabetes, bronkhitis kronis, denyut jantung tak beraturan, kerusakan kalenjer gondok, IQ rendah pada anak-anak, bayi lahir cacat, kerusakan otak, sumbing, katarak, dan cacat kaki.

AS mengira dengan tindakan ini Vietnam Utara dapat menyerah, tetapi ternyata dugaan ini salah besar. Hal ini dikarenakan adanya banyak decoy (umpan) dan terowongan di distrik Chu Chi di mana tentara Vietnam langsung melakukan regroup dengan aman, lalu menyerang Prajurit AS di manapun mereka berada. AS keliru, karena tidak memperhitungkan semangat juang Prajurit Vietnam (walau dari sisi teknologi Vietnam kalah, tapi Vietnam sangat lihai memanfaatkan hutan-hutan mereka).

Pada tahun-tahun terakhir perang Vietnam, sudah sangat terlihat dengan sangat jelas ketidakberdayaan AS dalam membendung meningkatnya kekuatan Viet Cong. Banyak Prajurit AS yang kehilangan moral, dan akhirnya lari ke marijuana untuk menghilangkan stress.

Tak lama setelah itu, AS mulai melakukan apa yang disebut "vietnamisation", yaitu menarik pasukan AS dari Vietnam sedikit demi sedikit, secara perlahan-lahan menggantikannya dengan tentara Vietnam Selatan. Tekanan politik dari dalam negeri dan dunia semakin menambah beban berat bagi AS untuk meneruskan perang yang super mahal tersebut.

Hal ini dilakukan dengan alasan AS akan mulai memikirkan perdamaian Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, demi menutupki kekalahan demi kekalahan tentara AS di hutan-hutan Vietnam.

Apakah disana ada Rambo? Jelas tidak yang ada, yang ada hanyalah Dubes AS di Vietnam yang lari terbirit-birit menggunakan heli karena pasukan Giap sudah menguasai Vietnam Selatan yang didukung AS.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta