INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 10 November 2008

Mengenang Kembali 10 November 1945

Oleh Heri Hidayat Makmun

Perang yang terjadi pada 10 November 1945 bolehlah kita katakan sebagai perang yang paling horoik dalam sejarah perjuangan RI untuk melawan penjajah. Perang yang dilakukan terhadap pasukan sekuti ini terjadi di Surabaya terhadap pasukan Inggris yang telah diboncengi NICA.

Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa dan tujuh hari kemudian tepatnya pada 8 Maret 1942, Pemerintah Kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu Indonesia diduduki Jepang. Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh AS. Peristiwa itu terjadi Agustus 1945.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 kevakuman ini dimanfaatkan oleh pemuda-pemudi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan. Sebelum sekutu melucuti persenjataan Jepang, para pejuang RI berupaya lebih dahulu melucuti persenjataan tentara Dai Nippon Jepang.

Terjadilah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di sejumlah daerah. Ketika gerakan untuk melakukan perlucutan senjata Jepang ini tentara Inggris mendarat di Jakarta pada tanggal 15 September 1945, kemudian juga mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945.

Tentara Inggris ini datang ke Indonesia bertugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi dibalik misi ini ternyata NICA sudah disusupkan dalam kedatangan tentara sekutu ini. Rupanya tentara Inggris membawa misi juga mengembalikan wilayah hindia Belanda kepada pasukan Belanda yang satuannya bernama NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Inilah awal kemarahan para pejuang RI diseluruh nusantara.

Di Surabaya dikibarkannya bendera Belanda, Merah Putih Biru, dihotel Yamamato, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dan badan-badan perjuangan yang dibentuk rakyat. Bentrokan bersenjata antara tentara Inggris dengan para pejuang RI ini memuncak setelah terbunuhnya Bragadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur) pada 30 Oktober.

Atas kematian Mallaby ini, pasukan Inggris mengeluarkan ultimatum yang isinya sangat melecehkan para pemuda pejuang dan rakyat Indonesia. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan melatekkan senjatanya di tempat yang ditentukan. Kemudian diharuskan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan ke atas. Ultimatum ini diberi batas waktu sampai pukul 06.00, tanggal 10 November 1945.

Ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Indonesia, bahkan jadi bahan olok-olokan oleh rakyat Indonesia. Apalagi Republik Indonesia telah berdiri dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga sudah terbentuk. Kedaulatan RI tidak bisa dihilangkan oleh tentara Inggis di Surabaya.

Pada tanggal 10 November 1945 pagi hari tentara Inggis mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat dengan mengarahkan sekitar 30 ribu serdadu (ada sebagian serdadu Inggris ini tentara Gurkha yang berasal dari India), 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Pada awalnya pihak Inggris menganggap remeh para pejuang.

Mereka beranggapan dengan melakukan serangan dengan kuantitas tersebut, hanya dalam tempo tiga hari atau seminggu saja para pejuang yang tergabung dalam TKR dapat ditaklukkan. Mereka menduga bahwa persenjataan modern mereka sangat canggih dan cukup efektif menghadapi para pemuda TKR.

Namun diluar dugaan perang ternyata cukup lama, melelahkan dan banyak membuat stress tentara Inggris di Surabaya. Sebenarnya jika saja pasukan bantuan Inggris yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah terlambat datang, mungkin TKR dan rakyat dapat mengalahkan pasukan Inggris yang bersenjata lengkap ini. Bahkan Pimpinan Inggris di Surabaya sempat melakukan kontak dengan Sukarno, dan meminta tolong agar perlawanan TKR dan rakyat dihenghentikan, dan melakukan diolog. Tetapi ternyata ini hanya strategi Inggris untuk mengulur waktu agar pasukannya yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah dapat sampai di Surabaya terlebih dahulu.

Perlawanan TKR yang luar biasa ini tidak hanya seminggu namun dapat bertahan sampai lebih dari sebulan. Perlawanan Rakyat pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Sebelum seluruh kota benar-benar dapat dikuasai pasukan Inggris perlawanan rakyat tepat sengit.

Mati satu tumbuh seribu, demikianlah istilah yang tepat ketika para pemuda dari berbagai pelosok Jawa bahkan dari luar Jawa ikut datang dan berperang. Bung Tomo melalui siaran radio melakukan pidato yang berapi-api untuk menyemangai para pemuda, tidak saja dipulau Jawa tetapi gaungnya sampai keseluruh Nusantara.

Demikian banyaknya para pejuang dan rakyat yang gugur dalam pertempuran tersebut. Inilah yang menjadi memontum penting sejarah perjuangan RI, dan dijadikannya 10 November sebagai Hari Pahlawan. Semangat para pemuda yang rela berkorban tetap kita ingat sampai sekarang.

Semoga semangat dan kepahlawanan para pemuda pejuang waktu itu tetap hidup dan menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dan menjadi bangsa yang maju dan NKRI tetap berdiri tegar. Amiin.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta