INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 10 November 2008

Dosa-Dosa Amerika Serikat Pada Rakyat Vietnam

Oleh Bambang Cahyo

Dampak perang Vietnam masih merupakan permasalahan dunia yang tidak selesai-selesai. Tulisan saudara A.S. Laksana ini cukup bagus dan memberikan inspirasi kita tentang bahaya perang yang menghantui bukan saja pada masa perang, tetapi juga setelah masa perang usai. Seperti yang terjadi di Vietnam.

Kita semua sebagai warga dunia yang cinta damai hendaknya mengambil hikmah dan semua pihak dapat memikirkan dan berupaya menyuarakan sisi kemanusiaan yang sering disingkirkan. Salah satunya adalah dengan menghilangkan penggunaan senjata pemusnah masal dalam perang. Kerugian yang diderita tidak saja pada masa perang tetapi juga sampai pada generasi-generasi ketiga rakyat Vietnam yang menjadi korban.

Kebiasaan AS untuk menggunakan senjata seperti bom atom, agent orange, ranjau darat, bom cluster (bom cluster masih banyak digunakan di Irak dan Afghanistan) sudah sepantasnya tidak boleh digunakan lagi. Terbukti penggunaan senjata-senjata tersebut banyak merenggut nyawa rakyat sipil.

Berikut ini dijelaskan kerugian penggunaan senjata-senjata tersebut dengan menguti dari sebuah buku karangan A.S. Laksana tetang senjata pemusnah masal agent orange dan ranjau darat yang pernah dipakai oleh militer AS ketika perang dengan Vietnam Utara. Seperti diuraikan dalam tulisannya berikut ini:

Banyak kejahatan perang yang dilakukan oleh AS dalam kurun waktu berlangsungnya perang Vietnam, termasuk penggunaan senjata kimia yang ilegal. Antara tahun 1662 dan 1971, AS menumpahkan 19 juta galon racun tanaman (herbisida) di Vietnam, dan yang paling ganas adalah 12 juta galon agent orange (herbisida dengan kadar racun yang sangat kuat), yang mengandung dioksin, racun yang merusak pusat susunan syaraf dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh, menyebabkan kanker, diabetes, bronkhitis kronis, denyut jantung tak beraturan, kerusakan kalenjer gondok, IQ rendah pada anak-anak, bayi lahir cacat, kerusakan otak, sumbing, katarak, dan cacat kaki.

Dari dua juta orang Vietnam yang terbunuh selama masa perang, sekitar satu juta adalah korban agent orange. Selain menebarkan agent orange ke seluruh penjuru Vietnam, lebih dari dua puluh kali pasukan khusus AS menggunakan gas syaraf sarin kepada tentara Vietnam maupun sipil.

Sekedar mengingatkan, gas inilah yang dilepaskan di pagi hari bulan Maret 1995 di stasiun subway Tokyo oleh para pengikut sekte Aum Shinrikyo, sebuah sekte keagamaan yang dipimpin oleh Shoko Asahara. Peristiwa ini menewaskan 12 orang dan melukai 5.000 orang lainnya yang waktu itu memadati stasiun subwey. Tahun sebelumnya, dengan gas yang sama, pengikut sekte ini membunuh 7 orang di kota Marsumoto.

Traktat Paris ditandatangani tanggal 27 Januari 1973, dan dengan itu pasukan Amerika harus ditarik dari Vietnam. Dua tahun kemudian, tanggal 30 April 1975, Sigon jatuh dan Perang Vietnam berakhir dengan kemenangan Vietnam Utara.

Perang berakhir bukanlah berarti berakhirnya penderitaan warga Vietnam. Korban-korban tetap berjatuhan setelah itu. Selama masa perang, Amerika menyemprotkan 19 juta galon agent orange dalam rangka untuk menghancurkan pangan dan perlindungan musuh. Racun tanamaan itu tetap bekerja dengan baik hingga bertahun-tahun setelah perang, dan sudah merambah generasi ketiga korbannya sampai hari ini.

Bulan November 2000, menjelang kunjungan Clinton ke Vietnam, BBC membuat laporan tentang warisan agent orange dan memajang di website-nya sejumlah foto anak-anak Vietnam yang mengalami cacat lahir. To Tien Hoa, seorang kakek berusia 65 tahun yang menghabiskan masa tujuh tahun bertempur melawan Amerika, mengatakan bahwa ia disemprot berulang kali dengan agent orange. "Anak saya lahir cacat kaki dan sekarang cucu saya tidak memiliki kaki, sedangkan tangannya cacat," katanya sebagaimana dikutip BBC. "Saya yakin ini karena agent orange."

Chris Hatfield, seorang Kanada, telah melakukan survei yang saksama tentang agent orange ini terutama di daerah-daerah bekas pangkalan udara AS tempat penyimpanan herbisida. Ia mengatakan bahwa tempat itu sungguh sangat tercemar bahan kimia beracun dan dibeberapa tempat racun dioksin itu tidak benar-benar berkurang sama sekali. "Dioksin berpindah dari tanah ke endapan empang dan masuk ke tubuh ikan-ikan yang dipelihara di empang itu, kemudian masuk ke dalam darah dan air susu ibu," katanya.

"Sejauh ini pemerintah Vietnam tidak bisa melakukan apa-apa untuk pembersihan," kata Profesor Le Cao Dai, direktur eksekutif Dana Korban Agent Orange dan salah satu orang Vietnam yang ahli dalam permasalahan ini. Untuk menyingkirkan racun itu, katanya, tanah yang tercemari harus dipanaskan dengan temperatur yang sangat tinggi, ini tentunya sebuah proses yang mahal. Apalagi dengan luas areal yang terkontaminasi yang sangat lebar dan tersebar. Banyak orang cacat lahir di desa-desa yang disemprot racun tersebut.

Di luar Agent Orange yang masih tetap menguasai Vietnam warisan AS lainnya yang tetap bercokol lama disana adalah ranjau darat. Ranjau-ranjau itu, yang ditanam oleh tentara AS, bisa meledak setiap saat dan meminta korban. Hoan Quang Sy, 11 tahun. Kehilangan tangan kirinya akibat ledakan ranjau darat sisa perang Vietnam. Presiden Clinton melihat anak itu mengulurkan jabat tangan kepadanya ketika ia berkunjung ke Vietnam pada bulan November 2000. Clinton juga bertemu dengan Nguyun Duc Huynh yang kehilangan mata dan tangan, dan juga bertemu Nguyen Duc Hoa yang terbakar wajarnya. Keduanya berusia 12 tahun. Ranjau-ranjau yang tidak meledak di masa perang tetap membunuh sekitar 2000 orang Vietnam dalam setahun.

Namun walaupun berbagai ranjau ini masih sangat berbahaya AS masih tidak mau menandatangai kesepakatan bahwa pemakaian ranjau darat adalah tidak syah. Amerika Serikat memiliki stok ranjau darat sebanyak 11 juta. Walapun Clinton sudah pernah mengunjungi Vietnam tetapi tidak pernah ada seuntai kata yang menunjukkan permintaan maaf negara itu kepada Vietnam. Apalagi masa setelah Presiden G Bush berkuasa, selain tidak pernah akan mengatakan itu. Bush mengatakan bahwa Vietnam sebagai contoh negara yang bandel.
(Sumber : Amerika Mengobarkan Perang, karya A.S. Laksana, 2007 )


Sekarang setelah Obama terpilih perlu ada perubahan sikap yang menunjukkan perhatian serius dan permintaan maaf AS secara resmi kepada rakyat Vietnam yang menderita dan bahwan memberikan konpensasi sebagai rasa bersalah yang seharusnya diberikan kepada negara yang mengaku sebagai "kampium HAM." Apalagi Obama juga sebagai mantan aktivis HAM yang bersikap kritis kepada kebijakan-kebijakan luar negari AS semasa ia masih aktif di berbagai LSM.

AS menerima kompensasi sebagai ganti rugi dari Pemerintah Libia sebesar 1,5 miliar dolar kepada keluarga korban serangan terorisme pengeboman pesawat Pan Am pada tahun 1988 di atas wilayah Lockerbie, Skotlandia yang menewaskan 270 orang. Apakah pemerintah AS bersedia melakukan seperti yang pemerintah Libia untuk juga memerikan konvensasi kepada rakyat Vietnam yang menjadi korban?

Apakah Obama bisa melakukan ini? Tanpaknya harapan masyarakat dunia masih besar, tetapi mari kita tunggu berbagai langkah kebijakan luar negarinya, karena di awal masa setelah ia terpilih dia sudah repot memikirkan antisipasi rudal Rusia dan proyek energi nuklir Iran. Reaksi awal yang tidak diharapkan.

1 komentar:

jogjashoppingcenter mengatakan...

penjajahan dan penindasan ternyata masih meraja lela di jaman modern ini, kita harus berusaha membela yang benar,

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta