INTERNASIONAL NASIONAL

Rabu, 12 November 2008

Diary Hari-Hari Terakhir Jenderal Yoshitsugu Saito di Pulau Saipan pada Perang Pasifik

Oleh Aji Sambodo

Pertempuran di Pulau Saipan adalah sebuah pertempuran di teater Pasifik selama Perang Dunia II yang terjadi di pulau Saipan yang merupakan bagian dari kepulauan Mariana. Pertempuran ini terjadi antara pasukan Sekutu yang di pimpin oleh Amerika Serikat bertempur melawan pasukan Jepang dari tanggal 15 Juni 1944 sampai tanggal 9 Juli 1944. Tentara Amerika Serikat dapat menaklukan tentara Jepang yang dikomando oleh Yoshitsugu Saito. ( Sumber : Wikipedia )

Saat perang ini berkobar antara Militer Dai Nippon Jepang melawan Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Pulau Saipan merupakan pulau yang dijadikan sebagai basis pertahanan utama PIhak Jepang. Sebanyak 32.000 pasukan Negara matahari terbit ini membangun “strong hold” dipulau yang menjadi bagian dari kepulauan Mariana. Pulau lain selain pulau Saipan dikepulauan itu yaitu pulau Guam dan Tinian.

Setelah kekalahan Sekutu sebelumnya dan akan melakukan serangan balik Sekutu pada wilayah tersebut yang didahului oleh penyerangan Sekutu pada pulau Roi-Namur dan Kwayalein dari Kepulauan Marshall, Pulau Eniwetok direbut Amerika. Barulah Sekutu melanjutkan penyerangan ke Kepulauan Mariana pada Juli 1944.

Pada tanggal 6 Juni 1944 pasukan AS dan mulai berangkat dari Kepulauan Marshall sebagai basis baru pasukan Sekutu. Armada yang dipimpin oleh Raymond Spruance sebagai pimimpin operasi dan Laksamana Marc A. Mitscher yang memimpin kapal-kapal induk akan bertarung dengan pasukan Jendral Saito yang telah menunngu di Pulai Saipan yang telah bersiap dengan kekuatan penuh.

Dalam perang ini Pulau Saipan yang dikomadoi Saito harus menghadapi serangan udara, laut dan darat. Pasukan Jepang dengan gagah berani dan secara luar biasa mampu bertaham sampai 21 hari. Saito sadar bahwa pengepungan ini harus berakhir. Dalam hari-hari terakhir hidupnya sebelum harikiri dilakukannya yang dipercepat kematiannya dengan tembakan ke dahi oleh pengawal setianya untuk mengurangi rasa sakit penderitaan hara-kiri. Saito menulis sebuah diary yang sangat terkenal.

Sumber tulisan diary ini Penulis kutip dari buku yang berjudul “Perang Pasifik” karya Perang Pasifik, Onghokham, 2006. Diary ini memberikan gambaran lain pada pikiran kita mengenai perang. Selain rasa nasionalisme Saito yang luar baisa dan kesetiaan para prajurit Saito yang lebih rela menghadap musuh dari pada mati digua-gua.

Beginilah cerita dari diary Saito yang herois itu:

"Pada tanggal 4 Juli saya mendapat kenyataan bahwa kami telah dikurung sama sekali. Segala harapan telah hilang. Jenderal Saito merasa tidak enak badan, sebab selama beberapa hari ia hampir tidak makan dan tidur. Ia letih sekali. Jenggotnya telah panjang. Saya merasa kasihan melihat dia. Saya merasa saat-saat terakhir sudah dekat.

Jenderal Saito mengadakan konferensi rahasia. Boleh pilih : mati di gua-gua ini atau kita mengadakan serangan dan bertempur sampai saat terakhir. Pendapat Laksamana Nagumo telah diterima rupanya. Selama empat hari dibutuhkan untuk menyiarkan perintah Saito. Semua orang mengumpulkan miliknya. Tukang masak begitu baik buat menyiapkan suatu pesta makan terakhir untuk Jenderal Saito. Dihidangkan sake (anggur Jepang) dan daging kepiting dalam kaleng.

Pesta perpisahan ini perlu diadakan, oleh karena Jenderal Saito yang sudah tua, tidak kuat untuk ikut serta dalam serangan banzai yang terakhir ini. Maka itu dia mengambil putusan untuk harakiri. Jamnya sudah ditetapkan. Pukul 10 pagi tanggal 7 Juli.

Dua jam sebelumnya, Jenderal Saito mengeluarkan perintah harian terakhir: "Saya berbicara kepaa para perwira dan prajurit dari Tentara Kerajaan di Saipan.

Sudah lebih dari 20 hari setan-setan Amerika menyerang: baik tentara Angkatan Laut kerajaan telah bertempur secara gagah berani ... Tapi Tuhan tidak memberikan kita kesempatan ... penembakan dan pemboman musuh yang hebat ... tidak peduli kita menyerang atau tinggal diam ... hanya kematian yang menunggu kita. Akan tetapi dalam kematian ada kehidupan ... maka itu seranglah ... saya berdoa untuk engkau untuk keselamatan Tenno Heika dan kesejahteraan tanah air kita dan saya maju untuk mencari musuh. Ikutilah saya". ( Sumber : Perang Pasifik, Onghokham, 2006 )

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta