INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 28 November 2008

Ciri-ciri Jurnalis Amplop Imperialis

Oleh Subekti Wibowo

Imperialisme melalui kerja jurnalis sudah biasa terjadi dalam dunia politik. Perjuangan memperebutkan kemerdekaan contohnya oleh negeri-negeri yang terjajah ternyata harus menghadapi propaganda imperialisme. Baik perjuangan pada masa bangsa Indonesia dulu memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan maupun perjuangan bangsa-bangsa lain yang masih terjajah pada zaman kini.

Dapat banyak sekali kita temui bukti bahwa media sekarang baik asing maupun yang berada di Indonesia dari dulu sampai sekarang ini. Dalam arti jurnalis yang tidak memihak baik dalam makna yang kasar atau dalam prilaku jurnalis yang halus. Jurnalis yang tidak memihak dalam sebuah berita dapat sangat terlihat dari gaya, cara penulisan dan pemilihan kata yang digunakannya dalam pemberitaan tersebut. Berita, artikel atau opini jelas berbeda. Berita harus mengedepankan diskripsi yang tidak menghadirkan perasaan dan keberpihakan personal dalam presentasi hasil liputannya.

Satu dua kata yang digunakan dalam suatu hasil liputan bisa menjadi "pesanan pihak ketiga" sebagai rangka memperkuat hegemoni imperialisme, kapitalisme dan liberalisme di berbagai belahan bumi termasuk di Indonesia.

Menurut Nanci Snow dalam bukunya Propaganda, Inc menjelaskan sebagai berikut ini: Ada tiga karakteristik propaganda: (1) ia merupakan komunikasi yang disengaja, dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran; (2) ia menguntungkan bagi sepelaku progaganda untuk memajukan kepentingan orang yang dituju; dan (3) ia biasanya merupakan informasi satu arah. ( 2003: Nancy Snow )

Mempergunakan permainan kalimat, kata dan sebutan tertentu untuk suatu kesan tertentu. Ciri-ciri ini biasa digunakan untuk mendiskripsikan daerah atau wilahah perang seperti yang terjadi di Irak dan Afghanistan atau lainnya. Misalnya dalam penggunaan penyebutan untuk para pejuang Irak dengan sebutan "teroris Irak", "militan Irak", "fundamentalis Irak", "ektrimis Irak", "pengacau Irak."

Penggunaan kata "ekstrimis" contohnya yang ditujukan kepada seorang pejuang Irak, walaupun sederhana tetapi memiliki dampak dan kesan yang mendalam terhadap pembaca. Contohnya lagi untuk menjelaskan kematian seorang tentara AS di Irak dengan menggunakan kata-kata "gugur" sementara kematian seorang pejuang Irak dengan kata "tewas."

Contoh lain lagi dalam menambahkan suatu kata atau tidak dalam suatu penjelasan, seperti dalam penggunaan kata-kata untuk mendiskripsikan tentang kematian 10 orang sipil Afghanistan, ada jurnalis yang menjelaskan dengan kalimat sebagai berikut: "10 Orang Irak Tewas Terkena Bom." Kata-kata 10 orang Irak tidak jelas orang Irak mana, apakah dia rakyat sipil, tentara atau para pejuang Irak? Bomnya pun tidak jelas juga milik siapa. Cara-cara pemberitaan seperti ini mereduksi dampak dari kejadian tersebut.

Lebih parah lagi ada jusnalis yang memberitakan dengan kalimat seperti ini, "Pasukan internasional memukul mundur miliran Iran di Kabul." Jurnalis ini akal-akalan dengan kata-kata pasukan internasional. Kapan ada permusawarahan internasional dan dunia untuk memberikan mandat kepada militer AS untuk menyerang Irak? Kalau begitu kasihan sekali bangsa-bangsa yang cinta damai jadi seakan-akan ikut terlibat dalam penjajahan ke Irak, karena terkesan telah memberikan mandat ke militer AS.

Dulu pada masa perjuangan Indonesia untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaanpun ciri-ciri seperti ini sudah ada, karena orang-orang seperti ini pada zaman perjuangan Indonesia dulu, tidak lebih dari seorang kaki tangan Belanda demi sepotong keju. Dulu Mr. Amir Syarifudin pernah menitikkan air mata karena membaca koran luar negari yang menyebut para pejuang RI dengan sebutan ektrimis inlander.

Ada juga seorang jurnalis yang jujur dari media "The Times" pada Desember 1946, dari suatu berita pada masa perjuangan kemerdekaan yang dikutip berikut ini: "... Orang-orang yang memandang pergerakan di Indonesia ini dapat mencap pergerakan tersebut sebagai "aliran kemerdekaan" atau "memuncaknya kejahatan", tergantung dari sikap-sikap politik yang dianut masing-masing. Tetapi ini bukanlah gambaran yang sebenarnya dari kejadian-kejadian di Indonesia dewasa ini..." ( Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, karya DR. A.H. Nasution, 1989)

Dalam kasus lain seperti menyebut para tersangka "teroris" di Guantanamo sering masih dilakukan justifikasi oleh para jurnalis "pemberita miring" ini. Walaupun tahu bahwa para tersangka yang ditahan di penjara paling kejam diseluruh dunia ini tidak melalui proses pengadilan dan hanya berdasarkan tuduhan saja, tetapi masih saja para menggunakan sebutan "teroris Guantanamo", atau "Penjahat politik yang ditahan dipenjara Guantanamo." Justifikasi justru bukan dilakukan oleh pengadilan berdasarkan prosedur hukum yang berlaku tetapi oleh seorang jurnalis yang ingin merangkap sebagai hakim.

Sudah dapat dipastikan bahwa jurnalis yang menggunakan istilah tersebut untuk para pejuang Irak yang jelas nyata-nyata membeli negaranya dari serangan musuh maka sudah dapat dipastikan bahwa jurnalis tersebut adalah tersebut adalah "jurnalis amplop."

Dia telah menerima bayaran sebagai pelaku fitnah yang keji. Sudah tentu orang-orang ini sangat mendukung terjadinya pembunuhan dan kekejian di Irak, Afghanistan dan tempat-tempat kawasan korban perang lainnya.

Rasa kemanusiaan dihilangkan demi dolar. Hati telah menjadi hitam dan beku, mata dibutakan dan kuping telah ditulikan demi sekedar mendapatkan uang receh dengan cara apapun. Jangan ditanya tentang etika jurnalis, karena misi mereka adalah propaganda.

Mengumbar kata-kata tersebut sebagai usaha mendiskriditkan para pejuang kita. Dari dulu sampai sekarang propaganda dengan maksud untuk mendiskriditkan pihak yang lemah dalam rangka memperkuat hegemoni rumusnya masih tetap sama.

Sayangnya jurnalis-jurnalis seperti ini justru sangat banyak dan bertebaran dalam berbagai media pemberitaan di Indonesia masa kini. Tidak belajar jurnalis pun seorang awam dapat menangkap suatu maksud yang disampaikan dalam suatu pemberitaan propaganda. Masihkan kita memberi peluang pada para jurnalis yang telah menjajah dengan memanipulasi pemahaman dan pemikiran kita?

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta