INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 20 Oktober 2008

Persamaan China dan AS dalam Bidang Ekonomi

Oleh Heri Hidayat Makmun

Disaat AS dan negara-negara Eropah dilanda krisis dan bahkan resesi ekonomi China justru dapat membukukan cadangan devisanya sebesar USD 1,9056 triliun pada akhir triwulan ketiga tahun 2008 ini.

Berdasarkan data Bank Sentral China jumlah tersebut meningkat sebesar 32,9% dari tahun lalu setelah berjalan 9 bulan ditahun ini. Meskipun pada kwartal kedua dan ketiga tidak sebaik pada kwartal pertama yang mencapai kenaikan 40%. Akibat mulai terjadinya kelambatan ekonomi global. Saat ini Cadangan devisa China ini yang terbesar didunia, sedangkan peringkat kedua adalah Jepang.

Kekuatan ekonomi China saat ini dan resisi AS diprediksi sebagian analis akan semakin mencengkram perekonomian Amerika. Bursa-bursa saham di AS mengalami kelesuan transaksi dan kemerosotan harga saham secara keseluruhan. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha China yang melakukan ekspansi dan melakukan pembelian sekuritas AS.

Dari data survei HSBC Commercial Banking, sekitar 40 persen perusahaan swasta China atau lebih dari 700 ribu perusahaan akan melakukan ekspansi bisnisnya ke luar negeri dalam waktu tiga tahun terakhir ini. Walaupun AS masih krisis kemungkinan besar pengusaha Tiongkok ini akan tetap bereskpansi kesana, selain ke Asia Tenggara dan Eropa.

Bukan hanya sektor swasta China saja yang berekpansi, pemerintah China melalui berbagai BUMN-nya pun melakukan pembelian sekuritas AS. Sebelumnya pemerintah China telah melakukan pembelian sekuritas AS senilai USD 1,5 triliun atau sekitar 70% dari cadangan devisa China sekarang.

China terus menggelontorkan dana cadangan devisanya ke AS dalam bentuk securitas selain untuk mempertahankan dolar dari depresiasi, agar menjaga nilai asset China di AS yang sebesar USD 1,5 Triliun ini agar nilai modal China di AS tidak terkikis depresiasi. Saat ini kepentingan China dan AS untuk menjaga dolar masih searah. China juga berkepentingan agar pasar domestiknya tidak lesu darah yang berakibat menurunnya daya beli.

Selama ini perdagangan AS dan China selalu terjadi neraca yang miring ketimur. Prilaku pemerintah AS lebih besar pasak dari pada tiang telah menguntungkan perdagangan China.

China akan mampu mempertahankan pertumbuhan pada kisaran 8% seperti yang diungkapkan Direktur pelaksana Merrill Lynch China Liu Erhfei. China bertanggungjawab untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan dengan menjaga inflasi dolar yang terkendali.

Untuk urusan mata uang AS ternyata diuntungkan oleh kepentingan China yang bercadangan devisa dolarnya sangat besar. Dengan terpaksa dua musuh bebuyutan ini berjalan seiring untuk mengamankan dolar. Saya menjadi berfikir bagaimana jika cadangan devisa China dialihkan kemata uang lain, umpanya ke euro. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta