INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 12 Oktober 2008

Perjalanan Panjang "Oderint Dum Metuant" dari Imparium Kekaisaran Romawi sampai Imparium Amerika Serikat

Oleh Sumantiri B. Sugeo

Oderint dum metuant yang maksudnya biarkan mereka benci asalkan mereka takut. Sebuah paham perang yang berumur dari sejak imparium Kekaisaran Romawi yang kekuasaannya terbentang di timur dan barat. Di timur menguasai sepanjang laut mediterania termasuk Turki, Palestina, Mesir, Afrika Utara. Di barat menguasai Perancis (dulu disebut Gaul), Spanyol dan Portugal (Iberia).

Warisan oderint dum metuant di lanjutkan oleh imparium Amerika Serikat yang menguasai pengaruh hampir di seluruh dunia. Dua imparium terbangun barpondasikan pemahaman untuk menjadikan musuh bagi siapapun yang berbeda. Mulai berbeda sistem bernegara, agama, blok, etnis bakal menjadi alasan untuk dijadikan musuh.

Musuh besar kekaisaran Romawi ditimur adalah keimpariuman Persia yang juga menguasai wilayah cukup luas, dari mulai Syria, Iran, Irak dan Afghanistan. Apa mungkin ada dendam warisan sejarah yang menyebabkan "ke-empire-an" Amerika Serikat juga ikut memusuhi bangsa-bangsa ini? Demikian lekatnya budaya Romawi kuno di wariskan ke Amerika Serikat modern.

Dalam konsep oderint dum metuant tidak diharuskan penguasaan suatu wilayah, negara, kerajaan dikuasai dengan menginvansi wilyah, tetapi jika kepala wilayah, kerajaan, atau pemerintahan diwilyah tersebut dapat ditundukkan dan bekerjasama dalam menjalankan kebijakan pemilik empire state, maka sudah dianggap sebagai bagian dari imperial state. Bisa dikatakan bahwa negara terjajah yang masih dikepalai oleh bangsanya sendiri menjadi negara boneka imperial state.

Dalam masa kekaisaran Romawi di barat berbagai kerajaan-kerajaan kecil masih terus hidup, seperti kerajaan di Spanyol dan di Prancis tetap dipertahankan, tetapi tetap menjadi bagian dari wilayah keemperialan dari Kekaisaran Romawi.

William Blum dalam bukunya Rogue State memperkenalkan suatu istilah "American Empire". Penyandingan kata-kata empire suatu istilah untuk suatu negara yang mengedepankan perang atau tekanan paksa dalam menghadapi siapapun yang berani tidak sehaluan dengan kebijakan politiknya untuk memperluas kekuasaan dan pengaruh (baik ketundukan pemerintahan atau penguasaan wilayahnya).

Kebijakan politik yang selalu melakukan intervensi, invansi dan propaganda dengan diawali melalui suatu cara mendistriditkan, memfitnah, memunculkan suatu pristiwa yang dilakukan agen untuk membentuk suatu opini tertentu dan membakar amarah untuk suatu negara tertentu. Benang merah inilah yang menunjukkan bawah Kekaisaran Romawi dan Imparium Amerika Serikat berideologi sama.

Sejarah panjang AS dari sejak World War I, Wolrd War II selalu membuktikan bahwa AS bersandar pada tiga pilar yaitu militer, industri, dan intelejen. Pilar yang membutuhkan sebuah musuh sebagai alasan untuk membangun sebuah empire state. Pemahaman empire state tidak mesti harus sebuah wilayah atau daerah ekonomis, tetapi bisa berupa sebuah pengaruh pada suatu wilayah. Dasar pengaruh bermakna bahwa wilayah tersebut menjadi basis pendukung kebijakan yang searah dengan kebijakan pemilik empire state.

Fakta ini bisa dilihat pada kasus AS di Grenada, El Salvador, dan Nikaragua tidak ada motif ekonomi yang dapat dinikmati AS, kecuali hanya perluasan pengaruh sebagai modal untuk menjatuhkan Uni Soviet yang terbukti berhasil.

Sampai saat ini AS memiliki pangkalan militer paling banyak diseluruh dunia dari mulai fasifik, timur tengah, eropah barat, eropa timur sampai Afrika Selatan, tengah. Pangkalan militer bisa dikatakan sebagai simbol suatu negara sudah menjadi bagian dari empire state yang dibangun oleh AS.

Paska hujan bom pada operasi badai gurun di Irak tahun 1991, AS mendirikan pankalan militer baru di Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Kemudian setelah Uni Soviet jatuh dan terpecah-pecah, maka AS melakukan invansi ke Yugoslavia di tahun 1999. Akhir misi ini juga dilakukan pembangunan pangkalan militer di Kosovo, Albania, Bulgaria, Makedonia, Hungaria, Bosnia, dan Kroasia.

Setelah Afhanistan di hancurkan dari tahun 2001 sampai 2002, yang menjatuhkan rejim Taliban. Lagi-lagi AS mendirikan pangkalan militer di Afghanistan, Pakistan (sekarang kerjasama kedua negara ini sedang bermasalah, yang berakibat pada pendekatan AS ke India), Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Kysgyszstan, Georgia, Yaman, dan Djibouti.

Jangan lupa juga pada akhir World War II AS sudah mendirikan pangkalan militer marinir juga di Yokosuka, Jepang. Demikian juga di Korea Selatan dan Fhilipina.

Sekarang ini AS juga sedang menjajagi pendirian pangkalan militer di Taiwan, sebagai langkah awal AS sudah menawarkan berbagai persenjataan dan pesawat terbang. Senjata baru yang diusulkan oleh Washington untuk dijual pada Taiwan bernilai US$6,463 milyar. ( Sumber : rti.org.tw ).

Sebagai kerjasama mutual AS - Taiwan, AS telah mengirimkan dua kapal perusak kelas Kidd dari Amerika Serikat yang akan memperkuat pertahanan di Selat Taiwan dari kemungkinan serangan China.

Seperti yang diberitakan oleh www.tempointeraktif.com menjelaskan bawah : "Kedua kapal perang itu, menurut panglima angkatan laut Taiwan Laksamana Lin Chen-yi, saat berbicara pada upacara pelepasan di markas Angkatan Laut Amerika di California, menjadi bagian dari tabir pertahanan krusial untuk mengamankan Selat Taiwan".

Jika dihitung pangkalan militer yang dimiliki oleh AS betapa banyaknya. Berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk membangun kerjasama militer atau pendirian pangkalan tersebut? Ini turut menyumbang defisit terus menerus AS pada anggarannya.

Wajar saja jika hutangnya sampai 11 triliun dolar AS yang berbuah krisis ekonomi AS. Wajar saja jika William Blum menyebut pemerintah AS sebagai empire state dan George W Bush lebih layak disebut seorang "jendral" dari pada seorang Presiden AS.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta