INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 10 Oktober 2008

Perdagangan Saham Bergerak Liar Akibat Virus di BEI

Oleh Heri Hidayat Makmun

Disaat AS dan negara-negara Eropah menyesalkan sistem perdagangan di pasar uang dan saham yang terlalu liar, akibat kurangnya infrastrukur peraturan yang mengayomi mekanisme wajar dan alami, besarnya pengaruh negatif para spekulan yang rakus dan merusak pasar, lemahnya jaminan likuiditas pasar dengan perbaikan sistem perbankan yang sehat, dan kurangnya perhatian terhadap kualitas pengaju kridit perumahan. Kerusakan tersebut baru dapat dilihat sekarang ini.

Kelemahan di Wall Street tidak berbeda jauh dengan BEI di Indonesia. Tetapi Wall Street lebih maju selangkah karena mereka sudah menyadari dan berusaha untuk memperbaiki, sedangkan di Indonesia belum.

Banyak investor yang berusaha untuk melakukan transaksi sehat kecewa dengan lemahnya aturan yang dapat menekan para spekulan nakal. Krisis ekonomi dijadikan kesempatan untuk mengambil keuntungan jangka pendek yang justru dapat membahayakan bursa saham dalam jangka panjang.

Keanehan itu justru terjadi "pada pengamat bayaran" ini yang menentang terhadap penghentian sementara perdagangan BEI. Hal seperti ini dilakukan juga oleh Rusia. Kondisi ini sangat efektif untuk menekan para spekulan nakal yang mencoba menggoreng saham-saham perusahaan yang go publik, terutama BUMN kita.

Para pengamat ini mengatakan bahwa untuk berkomitmen mengikuti liberalisasi perdagangan perlu memberikan kesempatan kepada pelaku bursa saham berlaku liar. Siapa lagi saat ini yang berkomitmen pada liberalisasi perdagangan? Amerika dan Eropa saja sudah mulai memikirkan suatu sistem yang mengedepankan aturan sehat dan kontrol pemerintah harus tetap ada.

Justru AS dicela habis-habisan karena membiarkan lemahnya kontrol kepada perbankan yang mencairkan permohonan kredit perumahan yang tidak layak. Isu utama yang muncul di AS dan Eropa kini adalah suatu mekanisme sehat dengan adanya suatu regulasi dan kontrol yang baik.

Ada regulasi tanpa adanya kontrol maka hanya omong kosong. Regulasi harus ditaati. Pemerintah atau badan independen mengawasi berjalannya aturan ini.

Kesempatan untuk mendapatkan kembali saham-saham kita dengan harga yang murah justru ada pada saat ini. Selama ini kita selalu menjual saham-saham BUMN sehat kita kepada asing.

Kita hanya menjadi rumah sakit BUMN sakit, setelah sehat dan dapat menghasilkan laba malah diserahkan kepada asing. Berbagai politik kotor asing dilakukan untuk menekan pemerintah terutama pada masa rezim Megawati berkuasa, dengan mudah dan naipnya pemerintah pada masa itu menjual BUMN-BUMN hanya untuk memenuhi anggaran yang habis dalam satu tahun anggaran saja.

Seakan-akan kita bisa makan asal bisa jual rumah, jual tanah, jual mobil. Prilaku seperti orang kaya bodoh menyebabkan aset kita tergadai tanpa memperdulikan kondisi di masa yang akan datang.

Ada Mafia di BEI

Mafia di BEJ melakukan aksi short selling dengan mengembuskan sentimen negatif agar harga saham yang menjadi target anjlok. Investor yang bersangkutan lalu membeli kembali saham itu dengan harga lebih murah untuk selanjutnya dikembalikan ke pasar setelah harga mulai berubah.

Gain yang didapatkan tidak besar tetapi dapat dilakukan dalam waktu cepat dalam kondisi krisis seperti ini. Bahkan, sejak akhir pekan lalu, otoritas pasar modal Inggris, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya melarang aktivitas short selling atas seluruh saham yang tercatat di bursa mereka.

Para spekulan dan manager hedge fund dari negara-negara di atas akan mencari sasaran spekulasi baru, yaitu di bursa negara-negara berkembang yang belum melarang short selling, termasuk Indonesia.

Kelemahan ini akibat kurangnya payung hukum untuk melindungi bursa saham dari perdagangan yang tidak sehat. Kepercayaan para investor akan terjamin jika para spekulan yang berperan seperti virus di BEJ ini dapat diblok. Jika komputer memiliki anti virus untuk menekan aksi-aksi virus. Maka pemerintah harus mengeluarkan regulasi agar BEJ bebas virus.

Virus dapat terus beraksi pada pasar yang mengutamakan liberalisasi. Leberalisasi digunakan sebagai tameng untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat. Ibarat mengail di air keruh. Mafia spekulan ini terorganisir dari mulai para pelaku bisnis dan pemilik modal sampai para pengamat yang menghembus-hembuskan informasi palsu.

Anehnya para pengamat bayaran ini banyak muncul di televisi-televisi nasional kita. Ciri-ciri mereka adalah menghembuskan agar BEJ tidak boleh diproteksi pemerintah, BEJ tidak boleh tutup diluar jam libur, mereka juga anti terhadap regulasi sehat dan selalu rajin mengatakan liberalisasi perdagangan. Pemerintah hati-hatilah dengan para virus ini.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta