INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 05 Oktober 2008

Krisis Ekonomi AS Akibat Moral Hazard Para CEO-nya

Oleh Heri Hidayat Makmun

Runtuhnya kejayaan ekonomi AS yang ditandai dengan kehancuran Wall Street memang telah diduga sebagain praktisi yang mengamati efek domino yang disebabkan oleh kredit perumahan yang direalisasi secara sembrono. Faktor moral hazard dan sistem pemberian bonus bagi para CEO bank perkreditan perumahan amat mempengaruhi besarnya nilai investasi pada asset yang sekarang bernilai anjlok tersebut.

Para CEO ingin mendapatkan bonus yang besar sehingga menggolkan hampir semua pengajuan permohonan kredit perumahan tanpa menilai secara baik kelayakan para kreditor.

Sistem ini memberikan bonus besar kepada para CEO yang berhasil menyalurkan kredit perumahan yang dianggap sebagai primadona untuk mendapatkan keuntungan rente perbankan yang sangat menggiurkan.

Inilah awal dari dimulainya suatu rangkaian musibah keuangan yang menimpa negara adidaya tersebut. Dari gagal bayar para kreditur, maka berimbaslah pada kekurangan likuiditas yang terjadi pada institusi perbankan penyalur kredit.

Sialnya ternyata hal ini terjadi secara bersamaan pada banyak bank dan lembaga keuangan besar AS. Lehmen Brother, Merrill Lynch, American International Group (AIG), Bear Stearns, Fannie Mae, Freddie Mac dan IndyMac yang membutuhkan dana cepat akhirnya banyak melepas sahamnya dibursa Wall Street secara bersamaan, sehingga anjloknya nilai saham bursa AS tersebut.

Anjloknya nilai saham ini menyebabkan nilai asset berbagai koorporasi keuangan menurun tajam bahkan ada yang minus seperti Lehmen Brother.

Selain bursa, dana likuid juga dicari dengan menerbitkan surat hutang baru kepada sesama perbankan atau lembaga keuangan lain, yang besar bunganya sampai 5,33% untuk pinjaman tiga bulan saja seperti suku bunga Libor (The London interbank offered rate) pada hari Jumat (3/10/2008).

Aset yang seakan banyak dan tersebar dimana-mana ternyata hanyalah aset sampah yang sulit untuk mendapatkan likuiditasnya kembali. Seperti aset-aset perumahan yang sedang dibangun atau terhenti pembangunannya (akibat kesulitan keuangan) dan kreditor yang gagal bayar, akibat kesulitan ekonomi ternyata sangat banyak. Sementara hutang kepada pihak ketiga atau pinjaman antar perbankan berbunga sangat tinggi. Lingkaran setan ini menyebabkan perekonomian AS tidak mudah untuk sehat kembali.

Walaupun Presiden AS George W Bush telah menandatangani rancangan undang-undang (RUU) penalangan korporasi bangkrut. Demikian juga Senat AS sudah terlebih dahulu menandatangani persetujuan atas RUU itu, yang kemudian menjadi undang-undang. Sebagai jalan Departemen Keuangan AS dan Bank Sentral AS siap mengucurkan dana untuk menalangi kerugian berbagai perbankan dan institusi keuangan "rakus" AS, tetapi perekonomian AS bagi banyak pihak belum menjadikan jaminan penyehatan ekonomi AS.

Krisis yang berlanjut menjadi resesi ekonomi ini, menurut investor ternama AS Warren Buffet, dalam wawancara yang dipublikasi majalah terbitan Jerman, Der Spiegel, akan bertahan lama.

Ternyata ketamakan para CEA perkreditan perumahan AS ini sangat mahal bayarannaya, bukan saja sekedar dana talangan yang harus dipikul para pembayar pajak AS sebesar 700 milyar dollar AS saja tetapi juga ancaman resiko kresis ekonomi global.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta