INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 11 Oktober 2008

Hubungan Mafia Neoliberalisme dengan Mafia BEI dan Spekulan Uang

Oleh Heri Hidayat Makmun

Neoliberalisme yang dilahirkan di Amerika Serikat ternyata bukanlah menjadi anak kesayangan, karena anak durhaka ini telah melahirkan resesi ekonomi AS dan juga berdampak besar pada ekonomi global.

Para pemikir isme ini dinegara asalnya seperti Samuelson atau Joseph Stiglitz telah juga mengucapkan selamat tinggal kepada pasar bebas, kecuali mungkin para aristrokrat mafia neoliberalisme di Indonesia ini masih terus bersemangat menjadi juru kampanye pasar bebas yang merugikan bangsanya sendiri.

Liberalisme ekonomi yang mewajibkan terjadinya pasar bebas, dengan memberikan ruang terhadap "invicible hand" mengatur segalanya berdasar hukum permintaan dan penawaran. Terlalu percaya bahwa pasar bebas akan meletakkan keseimbangan pada suatu titik tertentu, tetapi hukum ini tidak compatible dengan hukum hasrat manusia yang tidak pernah puas sampai titik tertentu. Hasrat dan kebutuhan manusia sampai pada titik "tidak terbatas".

Pasar akan selalu dirongrong oleh moral hazard yang tidak sulit untuk dihapuskan. Neoliberalisasi memarginalisasi potensi eksistensi manusia sebagai pengambil keputusan. Inilah kelemahan dari neoliberalisme yang sudah ditinggalkan oleh ibu kandungnya sendiri, karena pasar Amerika Serikat sejak krisis ini sudah diintervensi pemerintah AS dengan menggelontorkan dana sebesar 700 milyar dolar AS untuk memback up perbankannya.

"Setan" pemilik "invicible hand" yang biasa mengatur sudah diganti dengan rejim Bush yang melakukan intervensi terhadap pasar uang pasar bursa dan pasar komoditi di AS.

Contoh mengenai ini terjadi pada subprime mortgage yang menyediakan properti rumah tidak berdasarkan jumlah kebutuhan rumah di AS, tetapi hanya berdasarkan kebutuhan para CEO AS untuk mendapatkan bonus akhir tahun atau bonus insentif kridit perumahan. Akhirnya yang terjadi adalah investasi pada sektor perumahan yang jorjoran tanpa memperhatikan aspek manajemen yang baik.

Hal ini menjadi bukti bahwa hasrat manusia tidak pernah diperhatikan dalam neoliberalisme. Padalah pelaku pasar adalah manusia si "pemilik hasrat" tersebut.


Pemerintah Indonesia Harus Berani Bertindak

Pemerintah Indonesia tanpaknya masih ragu-ragu untuk meninggalkan pola lama yang merugikan. Walaupun pemerintah sudah mulai sedikit berani untuk menutup BEI sementara, tetapi tanpaknya masih malu-malu.

Ditambah lagi dengan rongrongan para neoliberalis Indonesia yang masih saja giat mengkampanyekan pasar bebas dalam kondisi seperti ini.

Pemerintah harus lebih berani mengintervensi pasar, menghentikan spekulan nakal di pasar uang. Walaupun memang ada investor asing yang menginginkan dolarnya kembali setelah menjual saham di Bursa, tetapi ternyata lebih banyak para spekulan nakal yang mencoba mengambil keuntungan dengan melakukan jual beli dolar jangka pendek.

Silahkan pantau di berbagai bank dan penukaran uang, Anda bisa lihat ternyata sebagian besar spekulan nakal ini adalah orang Indonesia sendiri. Mereka orangnya itu-itu saja. Mereka beraksi berpindah-pindah bank atau money changer agar tidak terlalu terlihat.

Bank Indonesia seharusnya melakukan tindakan tegas terhadap mereka ini, karena mereka sedang menggemboskan cadangan devisa kita. Ini sekali lagi adalah akibat moral hazard manusia yang terbiasa menari diatas penderitaan orang lain. Akibat orang-orang ini rupiah pernah jatuh tersungkur sampai Rp. 10.000,- per dolar AS.

Jangan takut dikatakan sebagai pengintervensi pasar, karena semua negara saat ini melakukan hal yang sama untuk membeli perekonomiannya. Justru AS dan Jepang, negara-negara Eropah sudah menggelontorkan dananya milyaran dolar untuk mengendalikan pasar yang liar. Jangan malu-malu Bank Indonesia! Lakukan tindakan pengamanan. Sekali lagi kita harus tegas terhadap para spekulan nakal di pasar uang dan bursa.

Salut jika seandainya BI meletakkan "polisinya" disetiap perbankan pelaku jual beli valas dan money changer. Beri tindakan pada spekulan nakal yang merontokkan nilai rupiah. Tangkap dan penjarakan saja para penggasak devisa ini.

Lain lagi moral hazard dipasar bursa. Isu mengenai penyebar rumor memang sudah terbukti, sebenarnya hal ini sudah diketahui oleh otoritas BEJ tetapi tidak lakukan tindakan tegas.

Para spekulan bursa pemilik dana menginginkan BEJ membuka pasarnya tanpa ditutup, karena hal ini menghilangkan kesempatan mereka. Mereka melakukan aksi penggorengan terhadap saham-saham yang potensial, seperti saham BUMN atau lainnya untuk mendapatkan gain yang cepat. Setelah sebelumnya mereka menyebarkan rumor yang menyesatkan.

Bahkan mereka berani membayar para pengamat yang terkadang sampai muncul di televisi atau koran. Kebohongan para pengamat ini didukung juga oleh media masa kita yang bodoh dan naip.

Sebagai efek meyakinkan para spekulan bursa ini juga memberikan sedikit bukti atas rumor yang disebarkan dengan melakukan transaksi jual atau beli sampai batas tertentu. Disaat pelaku pasar sudah berespon maka baru mereka mengambil keuntungan.

1 komentar:

日月神教-任我行 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta