INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 27 Oktober 2008

China Mulai Mengambil Tongkat Komando Kebijakan Ekonomi Dunia

Oleh M. Mujianto Muriawan

Akibat krisis ekonomi global yang dipicu dari krisis keuangan Amerika Serikat (AS) menghempas banyak Negara diseluruh dunia, terutama bagi Negara-negara yang mengadopasi system ekonomi Negara Paman Sam yang mulai loyo itu.

Langkah antisipasi dampak krisis global ini mau tidak mau hanya dapat ditanggulangi secara bersama diseluruh Negara di dunia. Efek global ini harus ditanggulangi secara global juga.

China yang saat ini paling banyak memiliki cadangan devisa, dan merupakan terbesar di dunia, dengan nilai sebesar sebesar USD 1,9056 triliun dolar AS. Sebelum krisis pemerintah China sebelumnya juga telah melakukan pembelian sekuritas AS senilai USD 1,5 triliun dari dana cadangan devisa pemerintah China. Selain itu 700 ribu perusahaan privat China juga akan melakukan ekspansi keluar dengan dana yang diperkirakan cukup besar, bahkan kemungkinan lebih besar dari cadangan devisa China sendiri.

Mungkin karena kekuatan tersebut juga yang membuat Negara Tirai Bamboo ini mengajak Negara-negara ASEAN, Jepang dan Korea Selatan untuk untuk membentuk suatu gerakan bersama yang diberi nama ASEAN+3 yang dilaksanakan di Beijing China, hasil kesepakatan diputuskan pada tanggal 24 Oktober 2008 berupa kesepakatan untuk menyiapkan dana bersama Negara-negara ASEAN+3 sebesar USD80 miliar. Dana berasal dari penyisihan cadangan devisa 10 negara ASEAN plus Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.

Dalam pertemuan tersebut China, Korsel dan Jepang mengumpulkan 80% dari total dana (sebesar USD 65 miliar) dan sisanya sebesar 20% dari cadangan devisa Indonesia, Malaysia, Singapura, Kamboja, Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Brunei Darussalam.

ASEAN + 3 juga menghasilkan kesepakatan Chiang Mai yaitu kesepakatan Negara-negara anggota ASEAN+3 untuk melakukan bilateral swap atau pinjaman antar Negara guna memperkuat cadangan devisa. Seperti kita tahu cadangan devisa kita saat ini sangat terkuras oleh aksi Bank Indonesia yang melakukan intervensi pasar untuk mengamankan rupiah, ternyata masih juga menembus angka fisikologis Rp. 10.000 per dolar AS, sehingga hal ini sangat membantu untuk memperkuat likuiditas Indonesia, rupiah dan kekuatan likuiditas regional Asia.

Setelah selesai ASEAN + 3, China juga memprakarsai pertemuan Asia-Europe Meeting (ASEM) Ke-7 yang diselenggarakan sehari setelah penutupan ASEAN+3. ASEM dilaksanakan di Great Hall of The People, Beijing.

Tampaknya sudah ada pergeseran inisiator, kekuatan ekonomi dan pengaruh dari barat ke timur, seperti ke negara-negara Asia Timur dan khususnya China yang menunjang pertumbuhan ekonomi regional.

Inilah yang menyebabkan mengapa Asia tidak separah Eropa sebagai kawasan yang menerima dampak krisis. Tentunya akibat ditopang oleh pertumbuhan baru seperti China, Korea Selatan, Malaysia dan juga India. Diluar Negara tersebut Singapura telah tumbuh terlebih dahulu yang juga ikut menopang dampak krisis terhadap Asia.

Buktinya ekpor kita paska krisis ini dapat segera mendapatkan buyer baru dari negara-negara Asia Timur yang pertumbuhannya masih optimis walaupun krisis sudah mengglobal.

Ternyata proteksi AS terhadap produk kita dulu yang diisu macam-macam telah memberikan hikmah pada kita, untuk tidak terlalu bergantung pada AS pada masa sekarang ini. Fenomena perubahan dan perkembangan ekonomi dunia ini, mau tidak mau harus merubah kebijakan perekonomian kita yang lebih ke arah timur. Apalagi setelah pulang dari Beijing, SBY membawa pulang kontrak baru ekspor sebanyak USD 630 juta.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta