INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 07 Oktober 2008

Raksasa Dolar AS Jatuh Menimpa Rupiah

Oleh Sri Megawati dan Heri Hidayat Makmun

Krisis AS menjadi fenomena menarik saat ini. Sejak jatuhnya Lehmen Brother sebagai pemicu dari jatuhnya juga berbagai perusahaan besar AS. Selama ini kita mengenal Amerika Sebagai adidaya ekonomi.

Hal ini juga selalu dikatakan oleh berbagai pakar yang tanpa ragu-ragu menetapkan bahwa AS merupakan negara dengan ekonomi yang kuat.

Kejolak sektor finansial merupakan hal yang biasa dalam era perekonomian dengan sistem keuangan dunia seperti sekarang ini. Tapi mengapa kejadian ini dapat demikian dalam pengaruhnya terhadap fundamental perekonomian AS. Semuanaya ini karena produk andalan AS justru ada pada sektor finansial ini.

Jika kita bertanya tentang produk andalan AS, jangan kita berpikir seperti Jepang produk andalannya berbagai merk mobil dan elektronik, Jerman produk andalannya pesawat terbang, China memproduksi masal mainan anak-anak, Malaysia memasarkan procesor komputer atau Arab Saudi sebagai juragan minyak.

Walaupun memang Amerika Serikat juga memiliki produk andalan seperti pesawat tempur, peralatan perang, dan industtri film, tetapi sebenarnya produk yang memberikan kontribusi besar dan bernilai paling tinggi justru ada pada dolar.

Amerika memproduksi uang dolar seperti halnya Jepang memproduksi mobil, Arab Saudi memproduksi minyak atau juga China memproduksi mainan anak-anak. Dolar yang biasanya hanya menjadi alat tukar, dengan dukungan sebuah mekanisme pasar, telah menjadi komoditas layaknya sebuah produk unggulan yang lebih menguntungkan dari pada peralatan perangnya atau juga industri perfilamannya.

Tidak seperti Bank Indonesia yang mencetak uang hanya untuk memenuhi kebutuhan uang beredar di dalam negeri saja dan digunakan di Indonesia atau regional yang sangat terbatas, sehingga Bank Indonesia sebagai Bank Sentral mencetak uang juga secara terbatas. Sedangkan dolar AS dicetak hampir setiap hari untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dunia internasional. Kendali penerbitan dolar AS dikontrol oleh Federal Reserve.

Bayangkan saja suku bunga suku bunga BI (BI Rate) adalah 9,25 persen, sementara bunga dari The Fed hanya 1,5 sampai 1,75 persen (Per 17 September 2008). Jika BI menurunkan suku bunganya sedikit saja rupiah langsung anjlok. Demikian juga jika The Fed menaikkan suku bunganya maka rupiah akan mengalami hal yang sama. The Fed menaikkan suku bunga ke 2% pada September 2008, yang menyebabkan rupiah tertekan.

Kemudian paska jatuhnya Lehmen Brother dan lainnya, kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga The Fed, seperti yang dikatakan oleh Ben Bernanke seperti yang diberitakan oleh CNBC.com, Rabu (8/10/2008).

Tentunya hal ini harus di antisipasi oleh Bank Indonesia, jangan sampai rupiah seperti layang-layang yang mudah dipermainkan.

Dana Moneter Internasional (IMF) merujuk dolar AS sebagai konsekuensi hasil dari Konferensi Keuangan dan Moneter di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat pada tanggal 22 Juli 1944. Dolar AS digunakan oleh berbagai lembaga keuangan internasional lain seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).

Demikian juga dengan berbagai proyek internasional yang dijalankan oleh lembaga dan badan PBB, seperti UNDP, WHO, FAO atau lainnya dengan menggunakan dolar. Industri perbankan di berbagai negara juga banyak yang menggunakan dolar sebagai alat penyimpanan. Seperti di Indonesia, contohnya Bank Mandiri, BCA, BNI, BRI menyediakan produk layanan penyimpanan valas dalam mata uang dolar.

Bursa-bursa saham duniapun menggunakan dolar tidak hanya Wall Street, tapi juga Bursa Efek Jakarta, Nikei, Dow Jones atau lainnya juga bertransaksi dengan menggunakan dolar. Ekpor impor kita pun juga menggunakan dolar, demikian juga dengan negara-negara lain. Dolar AS juga secara luas di dunia internasional sebagai kurs cadangan devisa.

Seperti negara kita yang disimpan sebagai cadangan dalam mata uang. China, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Fhilipina, Mexico dan banyak lagi negara yang menggunakan dolar sebagai cadangan kursnya.

Perang yang terjadi di Irak dan Afghanistan didanai dengan dolar. Sampai rubuhnya kedua rejim pemerintahan tersebut. Maka rejim yang baru berdiri menjalankan pemerintahan dengan anggaran dolar. Perang tidak hanya membuat peralatan perang AS laku keras di pasar gelap ataupun resmi tetapi juga, transaksi perdagangan yang terjadi menjadi dolar tetap dibutuhkan.

Seperti hukum permintaan makin banyak permintaan maka akan semakin banyak supplay. Selama ada pertumbuhan baru ekonomi di dunia, maka akan ada transaksi dan perdagangan baru yang membutuhkan dolar AS. Kebutuhan baru dolar ini yang selalu dipantau oleh Federal Reserve untuk dipenuhi dengan mencetak uang baru. Berapapun yang dicetak ternyata nilainya tetap tinggi.

Hasil penerbitan uang baru digunakan untuk mendanai anggaran pemerintah Amerika Serikat dan cadangan pemerintah AS sendiri. Jadi sebenarnya cost pemerintah AS ternyata ditanggung oleh pertumbuhan ekonomi dunia.

Wajar jika pertumbuhan ekonomi dunia mulai melambat, menjadi momok bagi pemerintah AS. Hal yang lebih menakutkan lagi jika ada negara yang mengubah mata uang cadangan kursnya dengan mata uang alternative, seperti euro, pounsterling atau yen. Jika ini terjadi maka mekanisme "gurita dolar AS" terhenti.

Infrastruktur dolar juga seperti jaringan yang melibatkan lembaga-lembaga keuangan dunia, government to government, coorporate to coorporat, dan international business to international business yang dikembangkan terus, sampai menjadi hukum perdagangan internasional. Bahkan juga sampai menjadi mata uang yang masuk menjadi bagian dari berbagai peraturan dan kebijakan perdagangan di suatu negara. Contoh berbagai peraturan bea cukai di Indonesia, dan pada berbagai negara berkembang yang mendapatkan pinjaman dana dari IMF.

Ketika Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997 yang berlanjut pada krisis ekonomi, dan kita berhutang pada IMF, maka pinjaman tersebut dalam bentuk dolar. Didalam kesepakatan RI - IMF, kita harus membiarkan rupiah bernilai mengambang (Floating Value), yaitu suatu metode apresiasi mata uang dalam negeri dengan mata uang asing yang ditentukan pasar.

Demikian juga dengan negara-negara lain yang meminjam dolar dari IMF atau Bank Dunia diwajibkan untuk menjalankan floating value ini. Cara inilah yang menguras devisa kita secara terus menerus untuk melakukan intervensi ke pasar guna menstabilkan rupiah. Nilai rupiah dipertahankan dengan mekanisme lindung nilai (headging).

Indonesia terjerumus dalam metode kurs mengambang ini akibat teknokrat-ekonomi yang dikenal sebagai "mafia Berkeley", yang terlibat konspirasi dengan asing menyusun sistem dan dasar ekonomi Indonesia. Sistem ekonomi kita terbentuk dengan banyak sekali dikte oleh IMF.

Kondisi moneter seperti Indonesia ini tidak jauh beda dengan negara-negara lain yang berhutang kepada IMF dengan mewajibkan kurs mengambang dan penyimpanan cadangan kurs dengan mata uang dolar.

Dari banyaknya negara-negara di dunia yang menggunakan dolar AS, dengan disupplay oleh pencetakan uang yang terjadi hampir setiap hari seperti yang dikatakan oleh Alan Greenspan. Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS, atau Federal Reserve (The Fed) pada pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Dia yang telah 4 kali periode menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral cukup berpengaruh mendesign The Fed, dapatlah kita katakan bahwa industri utama AS adalah dolar.

Dolar sudah dijadikan sebagai komoditas perdagangan bukan hanya sekedar nilai tukar, sehingga ketika terjadi krisis finansial dan kepercayaan kepada dolar menyusut, dengan merubah ke mata uang alternatif seperti uero maka krisis AS akan sangat terjerembab sangat dalam. Dolar merupakan kekuatan sesungguhnya AS.

Tekanan awal terhadap dolar AS adalah pada saat Uni Eropa mulai menyepakai menggunakan mata uang bersama euro sebagai alat tukar dinegara anggotanya. Disaat yang bersamaan kekuatan Jepang sebagai negara industri yang berhasil memantapkan Yen sebagai mata uang perdagangan mereka. Saat itu Federal Reserve sudah mulai mengurangi penerbitan uang baru. Mekanisme mengendalikan nilai mulai digunakan, saat pertama pemerintah AS merasakan inflasi, sehingga suku bunga the Fed mulai dikendalikan secara serius.

Sayangnya ketika banyak negara mulai mengalihkan cadangan devisanya ke mata uang alternatif seperti euro, tetapi pemerintah masih kekeh mempertahankan dolar AS sebagai mata uang cadangan devisa kita. Seakan kita tidak memperhatikan porto folio yang aman terhadap aset berupa devisa kita yang sangat terbatas ini.

Betul seperti apa yang dikatakan oleh Ahmadinejad Presiden Iran bahwa seandainya negara-negara Arab yang kaya minyak menggunakan dinar emas Arab Saudi sebagai alat transaksi maka perekonomian AS bisa goyah.

Ini terbukti ketika terjadi serangan 9/11 pada WTC yang menyebabka kecurigaan Pemerintah AS kepada investor-investor jazirah Arab yang berinvestasi di AS. Dengan membekukan aset beberapa perusahaan Arab Saudi yang beroperasi di AS dengan alasan beraliansi dengan Bin Laden, maka sebagian besar investor Timur Tengah ini lari ke Eropa dan menggunakan Euro. Bahkan kebingungan orang kaya timur tengah ini sampai membeli klub sepak bola di Eropa, dari pada dibekukan di AS. Modal yang terbang keluar dan berubah mata uang ini sempat membuat Wall Street dan dolar goyah, karena ternyata capital fly atau capital out flow cukup banyak.

Kegoyahan dolar berikutnya terjadi ketika terjadi subprime mortgage, yaitu bangkrutnya perusahaan-perusahaan pengembang atau real estate dan bank-bank yang mendanai kredit perumahan di AS. Kasus ini sudah terlihat sejak Juli 2007.

Efek domino dari subprime mortgage ini berakibat pada jatuhnya berbagai perusahaan besar AS, seperti Lehmen Brother, Merrill Lynch, American International Group (AIG), Bear Stearns, Fannie Mae, Freddie Mac dan IndyMac.

Seperti yang dikatakan oleh Ketua The Fed Ben S. Bernanke, "As you know, financial systems in the United States and in much of the rest of the world are under extraordinary stress, particularly the credit and money markets." Seperti yang dikutip dari situs resmi Federal Reserve.

Sekarang pemerintah AS mulai melihat kelemahannya sendiri, yang menjadikan dolar sebagai mekanisme penghisap, terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia dan negara lainnya. Sayangnya efek buruknya tidak saja dirasakan oleh AS saja, tetapi juga oleh seluruh negara yang terkait dengan sistem keuangan dan moneter dunia yang saling terkait erat.

Pada saat kepercayaan para investor dunia mulai melemah, maka mereka menjual sahamnya yang berakibat anjloknya IHSG. Ketika saham dilepas atau dijual, maka uang para investor tersebut akan dipindahkan ke valuta asing dalam hal itu adalah dolar AS. Maka, permintaan terhadap dolar AS di pasar valuta asing Indonesia meningkat. Sehingga lagi-lagi Indonesia menjadi korban, karena rupiah tertekan terus menerus.

Dalam konsisi seperti ini apakah pemerintah kita tidak ingin memindahkan cadangan devisa kita ke euro? Juga apakah pemerintah kita mau mengganti berbagai infrastruktur moneter dan keuangan ala IMF yang masih digunakan? Sayangnya pemerintah kita masih belum mau "pindah kelain hati".

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta