INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 20 September 2008

The End of Capitalism

Oleh Sri Megawati

Raksasa bank investasi dan lembaga keuangan terkemuka Wall Street, New York AS, dalam beberapa hari terakhir (19 September 2008) berjatuhan. Lehmen Brother, Merrill Lynch, American International Group (AIG), Bear Stearns, Fannie Mae, Freddie Mac, IndyMac sudah dicarikan liang lahatnya. Pertolongan Bank Sentral terhadap AIG pun tak memberi arti. Krisis ini akan mencari lagi pada para korban yang sekarat seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs.

Tampaknya efek domino akan terus berlanjut, seperti halnya sebuah tsunami. Tidak hanya di AS tetapi menggelobal pada hampir seluruh perusahaan dan lembaga keuangan di dunia. Contohnya di Inggris sudah ada dua korban yaitu HBOS dan Halifax

Di Asia bursa Hongkong anjlok 7,4 persen, bursa Tokyo turun 2,2 persen, Sydney melemah 2,4 persen, Taiwan 2,7 juga melemah persen. Pengaruh domino dari apa yang terjadi di Wall Street.

Disaat pasar keuangan AS jatuh tersungkur, Lembaga keuangan didunia lain menjadi alternatif sebagai sumber likuiditas seperti sekuritas China CITIC. Salah satunya CEO Morgan John Mack, Morgan Stanley dan Wachovia yang berusaha melobi pejabat keuangan China. Sebelum bangkrutpun Lehmen Brother pernah mencoba bernegosiasi dengan pejabat CITIC Securities yang ternyata berakhir nihil.

Keruntuhan berbagai lembaga keuangan tersebut bisa menjadi pemicu bagi keruntuhan instrumen kapitalisme lain. Seperti berbagai securitas dipenjuru dunia yang juga ikut anjlok. Ada kemungkinan juga resesi AS ini akan menjadi awal dari resisi global seperti yang terjadi pada tahun 1997.

Sementara negara berkembang yang juga ikut masuk dalam arus kapitalisasi sebagai konsekuensi desakan global sudah lebih dahulu kolaps, yang berakibat kemiskinan permanen yang sulit untuk bangkit. Mereka ini hanya menjadi korban atas tekanan lembaga keuangan internasional yang menjadi agen dari konglomerasi global untuk menghisap kekuatan ekonomi yang dimiliki oleh negara-negara berkembang.

Jika negara-negara maju juga ikut kolap, maka itu adalah batas dan sekaligus sinyal, bahwa sudah sampainya ekploitasi manusia pada ambang batas maksimal kemampuan sumber ekonomis bumi yang terbatas untuk menampung keinginan kapitalisasi yang tak terbatas. Suatu titik saat menjadi bumerang bagi pengikut kapitalisme itu sendiri.

Saat dimana sebuah kematian pada suatu isme praktek ekonomi yang selama ini diagung-agungkan oleh para ekonom Harvard dan para pengikutnya diseluruh dunia termasuk para ekonom di Indonesia. Ini bukti bahwa kapitalisme bukan sebuah akhir dari ide ideologi ekonomi yang mungkin ada di dunia.

Marx seorang yang pertama sekali memperkenalkan tentang kapitalisme dan menyusun sebuah buku yang cukup mendalam berjudul "The Capital", sekaligus juga orang yang meramalkan kematian isme in dengan mengatakan bawah "Kapitalisme akan runtuh". Satu paket kelahiran dan kematian suatu isme yang dibawa Marx ini sudah mulai menunjukkan kebenarannya.

Pakta dan data yang penulis sampaikan diawal mengenai kehancuran berbagai perusahaan keuangan di AS dan Inggris sebagai wakil dari pengikut kapitalis murni di sandingkan dengan fenomena kebangkitan ekonomi China pada beberapa dekade akhir ini yang mewakili dari simbul sosialisme. Ini hanya sekedar sinyal sebuat dikotomi yang sangat terang benderang dari dua isme praktek ekonomi yang ada dalam diskursus ini.

Ada pihak yang menyatakan bahwa China juga adalah negara kapitalisme dan sudah keluar dari sosialismenya sendiri, tapi mari kita analisa secara seksama. Mana mungkin sebuah pemerintahan China yang sekarang ini sangat dominan mengatur segala hal mengenai tata niaga perdagangan secara penuh, subsidi penuh, politik damping, dan kebijakan ketat atas kepemilikan tanah dapat dikatakan sebagai kapitalis. Mungkin ini hanya sebagai usaha pembenaran bahwa kapitalisme secara praktek masih berjaya dan tetap diakui sebagai isme yang tangguh atau juga sebagai usaha dari para intelektual yang mem-backup institusi kapitalis seperti Bank Dunia dan IMF tetap berfungsi.

Praktek kapitalisme yang memperkaya satu dua orang dalam sebuah komunitas yang banyak pihak justru membunuh dirinya sendiri pada masa yang akan datang. Kapitalisme tidak sustainnable.

Kapitalisme mungkin bisa bertahan jika pemegang kekuasaan ekonomi memiliki rasa sosialisme yang memberikan hak dasar pada pihak lain untuk tetap berkembang. Inilah yang bisa memicu munculnya ide baru yang membentuk suatu keseimbangan antara kapitalisme dan sosialisme, atau perlu adanya kebijakan dari suatu birokrasi untuk menekan kapitalis agar tidak "menggila" dan memberikan ruang gerak kepada pihak lain untuk berdaya.

Dengan kata lain fungsi dan perang pemerintah tetap sangat menentukan bagi keberlangsungan suatu praktek ekonomi yang lebih seimbang. Pemerintah tetap harus melindungan usahawan kecil dan para petani yang justru produksinya sangat dibutuhkan oleh manusia untuk tetap eksis. Peran subsidi masih efektif sebagai instrumen yang memberikan keseimbangan itu.

1 komentar:

PriYa's mengatakan...

Yea..!! dunia terus berputar. Berakhirnya dominansi Kapitalisme Dunia akan memunculkan sistem perekonimian baru.

Perekonimian Syariah,merupakan prediksi yg terkuat dan akan membawa pada kesejahteraan manusia dari berbagai lapisan melebihi dari sistem sosialisme.

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta