INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 01 September 2008

Rezim Megawati Obrall Murah Tangguh

Oleh Sumantiri B Sugeo

Wajar saja jika kita selama ini selalu mengalami kesulitan dalam meningkatkan penerimaan APBN. Ternyata dalam berbagai negosiasi tambang yang bernilaian milyaran dollar terjadi hanya diputuskan sesaat saja. Seakan segala hal yang bisa dijual, dijual secara obral yang penting laku. Walaupun komiditas seperti energi gas yang sekarang ini menjadi komoditas mahal dan langka. Anehnya lagi hasil negosiasi ini harus dijalankan dalam waktu yang sangat panajang (20 tahun).

Fakta seperti ini dapat dilihat dalam kasus kontrak gas alam cair dari Proyek Tangguh di Provinsi Papua ke Provinsi Fujian yang dihargai sebesar 3,3 dollar AS/mmbtu secara flet (tetap nilainya setiap tahun tanpa memandang perubahan harga yang dinamis) selama 20 tahun.

Menurut Kompas (Senin, 25 Agustus 2008), kontrak gas alam cair itu diputuskan saat kunjungan kenegaraan Presiden Megawati Soekanoputri ke China 2002 silam.

Jelas ini suatu keputusan yang sangat tidak cerdas.

Atas desakan Komite Penyelamatan Kekayaan Negara (KPK-N) Amien Rais, Yusuf Kalla diminta bertamu langsung ke Beijing untuk meminta renegosiasi ulang. Untung saja pemerintah China masih mau merenegosiasi lagi proyek tersebut.

Seperti yang diberitakan Kompas: Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan pemerintah RRC bersedia untuk melakukan pembicaraan ulang berkenaan dengan kontrak LNG Tangguh dan mereka pada prinsipnya memahami dan menyambut baik. Nanti kita akan buat tim kedua negara untuk membicarakan hal tersebut.

Tetapi setidaknya kita akan kehilangan banyak barganing value dalam renegosiasi tersebut akibat kesalahan keputusan lama. Walaupun harga sekarang ini menembus 20 dollar AS, tetepi mungkin kita sulit menyesuaikan harga seperti harga pasar tersebut akibat hilangnya bargaining value ini.

Mereka tahu kita tidak mungkin lagi membatalkan proyek ini, jika hal ini terjadi mereka bisa membawa kita ke arbitrase internasional yang jelas akan mengalahkan kita karena memang kita yang salah dalam menetapkan harga. Tuntutannya nanti akan jauh lebih merugikan kita.

Apa boleh buat mungkin dengan angka 10 dollar AS atau mudah-mudahan sampai 15 dollar AS yang bisa kita dapat. Nasi sudah jadi bubur, terpaksa kita lagi-lagi menjual aset kita murah-murah akibat kesalahan rezim lama.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta