INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 24 Agustus 2008

Perang Kaukasus Mutlak Kesalahan Mikhail Saakashvili

Oleh Heri Hidayat Makmun

Ossetia Selatan yang merupakan negara merdeka diproklamasikan setelah melalui perang tahun 1991-1992, tetapi sayangnya karena usaha NATO dan AS untuk tidak memasukkan peta Ossetia Selatan sebagai negara merdeka di Forum PBB.

Akibat kesalahan besar inilah yang menganggap seakan-akan Ossetia Selatan adalah provinsi dari Georgia.

Pandangan ini telah menempatkan Rusia seakan-akan sebagai penyebab ketidakstabilan keamanan Kaukasus. Padahal usaha Rusia justru bertindak untuk menjaga kestabilan keamanan Kaukasus.

Rusia hanya beraksi terhadap tindakan Georgia yang telah menyerang terlebih dahulu Ossetia Selatan yang merdeka. Tindakan Rusia "jauh lebih sopan dibandingkan dengan kebiasaan AS" karena telah melalui pakta penyerangan Georgia terhadap Ossetia Selatan.

Rusia hanya menginginkan bahwa pasukan Georgia ditarik mundur dari invansinya di Ossetia Selatan. Merupakan hal yang wajar jika Rusia bereaksi seperti itu.

Presiden Georgia Mikhail Saakashvili merasa bahwa jika dia menyerang Ossetia Selatan maka barat terutama NATO dan AS akan siap berada dibelakangnya. Kesan ini didapat setelah ada lampu hijau bagi Georgia untuk menjadi bagian dari NATO dan masyarakat Eropa, sehingga NATO dan AS dianggapnya tidak hanya mendukung suara tetapi tindakan militer tegas jika Rusia menyerang Georgia.

Peta politik internasional sekarang ini tidak bisa memandang rendah Tiga Negara Bangkit abad ini yaitu Rusia, China dan India yang akan sedikit demi sedikit menguasai sendi-sendi kekuatan diplomatik dan militer dunia untuk memasuki kancah sebagai aktor "perpolisian dunia" dengan alasan stabilitas keamanan internasional.

Barat sangat berharap terhadap Rusia untuk menggunakan pengaruhnya di Timur Tengah yang sekarang sedang berkomplik, tekanan ke Iran, dan Korea Utara.

Saakashvili menganggap remeh hal-hal ini, sehingga dengan mudahnya Saakashvili mencederai Kaukasus dengan asap militer terhadap Ossetia Selatan.

Amerika Serikat sendiri sudah kehilangan darah untuk melakukan tindakan militer sekarang ini. Amerika telah mengeluarkan dana sebesar 162 milyar USD untuk meneruskan perang di Afghanistan dan Irak. Itu belum cukup karena kemungkinan Pantagon masih membutuhkan dana sebesar 125 milyar USD lagi.

Jika dana untuk menyerang Afghanistan dan Irak saja sebesar itu harus berapa dana yang dikeluarkan untuk menyerang Rusia, yang hanya sekedar untuk mendukung tindakan bodoh Saakashvili.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Sakashvili juga harus bertanggungjawab atas perang dingin yang bangkit lagi

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta