INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 26 Juli 2008

Sudah Merdekakah Kita? Disaat Ekonomi Masih Terjajah dengan Tersanderanya Aset Strategis Negara ke Tangan Asing dan Terjerumus dalam Pasar Bebas

Oleh Heri Hidayat Makmun


Kata-kata Bung Karno yang mengatakan bahwa "Revolusi belum selesai..." semakin jelas repleksinya dalam fenomena kebangsaan kita saat ini. Fakta menunjukkan bahwa kita justru sangat terjajah. Mungkin dulu musuh kita cukup jelas, seorang Belanda yang berbadan tinggi, bule dan berkulit putih. Begitu juga Jepang yang memiliki fisik yang jelas, dengan berperawakan pendek, berkulit putih dan bermata sipit. Sehingga perjuangan untuk membangun NKRI dulu memiliki arah yang sama.

Sekarang? Perjuangan kita untuk membangun bangsa ini penuh dengan terpaan yang justru banyak datang dari anak bangsa kita sendiri. Mereka yang sudah terkadung memakan dana asing, kaki, tangan dan mulutnya sudah terkontrol oleh kekuatan yang menyebabkan dia rela untuk mendera rakyat.

Kata-kata dari mulut antek-antek penjajah ini selalu mengatakan "Pemerintah tidak boleh populis", "Kita Harus Taat pada IMF dan Bank Dunia", "Kita harus ikut WTO", "Pemerintah Harus Lebih Memperhatikan Makro Ekonomi", "Pemerintah Harus Mendukung Pengusaha Bukan Buruh Demi Menjaga Investor Asing" dan sebagainya. Kalimat-kalimat ini sering mereka ucapkan.

Bangsa kita juga terlalu banyak tertipu, dengan masuknya mereka ke kampus, ke pusat-pusat kebijakan pemerintahan, ke partai-partai politik maka tipu muslihat meraka akan mudah dicerna bangsa kita secara naif.

Dilegislatif mereka mrmpengaruhi dengan lobi-lobi yang mengarahkan pada keluarnya berbagai keputusan, kebijakan dan regulasi berdasarkan pesanan asing. Sebagai contoh pada pemilihan gubernur BI. Proses fit and proper test dan yang terlihat bukan sebagai legislatif forum tetapi toys forum. Jelas ada yang memegang remotenya.

Diperguruan-perguruan tinggi mereka menjadi dosen yang mengisi otak generasi bangsa, bukan dengan ilmu dan teori yang layak, tetapi sebuah kesepakatan yang dibungkus sebagai sebuah teori.

Saya ingat betul ketika saya harus dengan terpaksa menelan sebuah penjelasan pada saat saya kuliah pasca dari seorang dosen yang merupakan pejabat di Departemen Keuangan. Dokter lulusan Amerika yang didanai Ford Fondation ini mengatakan bahwa, "Bahwa kita negara dengan sumber daya alam yang miskin, sudah saatnya kita tidak harus melulu berfikir tentang sumber daya alam. Karena Jepang dapat maju dengan kemampuan kreatifnya".

Analisa dari kaca mata saya bahwa, ada penipuan yang dibalut dengan sebuah kebenaran. Memang benar bahwa Jepang dapat maju dengan kemampuan kreatifitasnya, tetapi aset strategis bangsa tidak harus diserahkan kepada asing mentah-mentah semuanya. Saya rasa ini tidak sesederhana cerita ini, karena pasti hal ini telah dilakukan secara sistematis. Ini jelas sebuah pembodohan. Saya yakin korbanya bukan hanya saya, tetapi juga banyak anak mahasiswa lain yang menjadi korban pembodohan ini dengan berbagai metode yang disusupi dalam kurikulum maupun materi yang disampaikan kepada mahasiswa.

Usaha pembodohan juga dilakukan pada tataran kurikulum, mulai dari kurikulum dasar sampai pada kurikulum perguruan tinggi. Sebagai contoh buku-buku kelas II SMA untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sudah tidak ada lagi yang tidak mencantumkan WTO. Pemahaman WTO sebagai ilmu dan wawasan tidak masalah, yang menjadi masalahanya adalah banyaknya pesan sponsor seakan-akan WTO merupakan jalan keluar bagi bangsa berkembang untuk keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan. Faktanya WTO mengharuskan negara berkembang menjadi konsumen negara-negara maju.

Istilah kapitalis sangat positif sekali dalam buku-buku pelajaran SMA sekarang ini. Ada yang mengistilahkan sebagai seorang wirausaha pemberi kerja. Sampai bahkan ada yang mengatakan pahlawan ekonomi. Ini jelas sistematis. Pantas ternyata perjuangan kebangsaan ini harus berhadapan dengan bangsa sendiri, karena pembodohan ini telah berhasil mempengaruhi generasi penerus kita.

Inilah kita sekarang, dimana kita berdiri, sudah seperti apa, dan siapa yang memegang tengkuk kita. Ternyata kita belum merdeka. Kita harus terus berjuang untuk mengembalikan semangat rakyat yang kelaparan.

Tujuh Belas Agustus Tahun Dua Ribu Delapan bukanlah hari kemerdekaan kita dalam fenomena kebangsaan kita saat sekarang ini, tetapi semoga ini menjadi hari kebangkitan kita untuk lebih mengedepankan kepentingan rakyat yang saat sekarang ini sangat menderita.

Apapun dan bagaimanapun kita sekarang ini, tetaplah bersemangat dan menyemangati dalam menyambut hari 17 Agustus 2008 yang akan kita rayakan. Sesedih apapun kita. Kita harus tetap tegar. Kita masih bersyukur bahwa RI masih eksis, walaupun kita masih menderita. Tetapi hari itu adalah penyemangat kita dan semoga inspirasi kesadaran bagi saudara-saudara kita yang masih "tersandera" pesanan asing:
"DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 2008
SEMOGA MENJADI NEGARA YANG BENAR-BENAR MERDEKA DAN BERJAYA"

1 komentar:

simple idea is a good action mengatakan...

cm ngeklik iklan diblognya mas,
masnya jg klik iklan di blog saya ya..thanks

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta