INTERNASIONAL NASIONAL

Kamis, 31 Juli 2008

Harapan Baru Calon Presiden dari Generasi Muda

Oleh : Septa Muktamar

Menjadi Presiden berusia tua atau muda memang tidak menjadi jaminan seseorang berhasil membuat bangsa ini lebih sejahtera, juga tidak ada korelasinya antara keberhasilan memimpin dengan faktor usia.

Munculnya nama-nama seperti Tifatul Sembiring, M. Fadjroel Rachman, Yusril Ihza Mahendra, Soetrisno Bachir dan lainnya untuk turut memeriahkan suksesi kemimpinan nasional harusnya juga patut direspon positif oleh masyarakat.

Ditengah kebosanan terhadap tokoh-tokoh nasional yang juga masih berambisi bersaing memperebutkan kursi presiden maka kemunculan tokoh-tokoh muda yang menyatakan mewakili generasinya ternyata memunculkan harapan baru pada masyarakat untuk segera membawa perubahan yang lebih baik pada bangsa ini.

Fadjrul Rachman, seorang alumni ITB, dan aktivis pergerakan yang anti partai menyatakan dirinya siap jadi presiden pada tahun 2009.

Yusril merasa perlu mencalonkan diri jadi presiden karena pengalamannya sekian tahun di kabinet, terutama di kabinet SBY-JK, menilai tentang lamban dan tidak kapabelnya sang presiden.

Tifatul yang belum secara terang-terangan menyatakan maju juga amat mendukung munculnya tokoh muda di pentas pemilihan presiden.

Soetrisno Bachir seorang pengusaha sukses yang menjabat Ketua Partai Amant Nasional juga bersiap-siap maju walaupun belum secara ekplisit mengatakan akan maju sebagai calon presiden.

Sebenarnya sangat wajar jika kita berikan applaus kepada mereka, setidaknya sebagai orang-orang muda mereka memiliki semangat yang progresif dan idealis, memiliki visi, komitmen untuk menjadi trendsetter perubahan.

Pasca orde baru sebenarnya juga sudah muncul harapan-harapan perubahan terhadap tokoh-tokoh pengganti rezim Soeharto. Rakyat menyandarkan harapan pada tokoh-tokoh yang silih berganti memimpin bangsa ini. Tetapi kita tahu, bahwa selama waktu itu rakyat juga sudah mengerti kapabilitas mereka memimpin bangsa ini, tanpa menafikan adanya akrobat politik yang dimainkan elit-elit politik saat itu, terlihat bahwa mereka telah gagal menjalankan amanah rakyat.

Habibie yang menggantikan Soeharto tidak sampai dua tahun memimpin bangsa ini, Habibie lalu digantikan Gus Dur juga tidak sampai selesai menjalankan tugasnya, ia digantikan oleh Megawati yang juga dikalahkan oleh SBY dalam Pilpres 2004, khusus SBY tampaknya popularitasnya juga semakin menurun. Menurunnya kualitas hidup rakyat menjadikan sebagian rakyat bosan terhadap SBY.

Silih bergantinya kepemimpinan nasional juga menunjukkan kegagalan mereka, dengan mengambil momen harapan baru sebagian tokoh-tokoh muda itu berinisitif menggantikan tokoh-tokoh tua generasi sebelumnya.

Saya melihat bahwa munculnya orang-orang muda tersebut lebih pada ekspektasi terhadap harapan baru, harapan adanya perubahan yang lebih baik, karena dulu juga besar harapan rakyat digantungkan kepada tokoh-tokoh tua yang silih berganti pernah memimpin bangsa ini.

Okelah harapan diberikan, tetapi kesempatan kepada tokoh-tokoh muda dengan segudang semangatnya juga patut diberikan..

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta