INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 06 Juni 2008

Kesederhanaan Mahmud Ahmadinejad yang Membawa Iran Menuju Kesejahteraan Di Bawah Tekanan Blokade Ekonomi Amerika

Bukannya sebuah hal yang mudah untuk mengurangi pengangguran, memberikan pendidikan gratis kepada generasi muda, menyediakan fasilitas gratis bagi pengobatan penduduk Iran, dan mempertahankan kondisi ekonomi Iran tetap stabil sehingga Iran tetap dapat survive bahkan ekonomi Iran tetap mengalami pertumbuhan, walaupun Iran berada di bawah tekanan Amerika dan sekutu-sekutu patuhnya. Bandingkan dengan Indonesia yang tidak melalui tekanan apa-apa tetap saja tersungkur. Itulah peran dari sentuhan lembut dan keras tangan Prof. Mahmud Ahmadinejad. Lembut kedalam dan keras keluar terhadap tekanan-tekanan dunia barat yang sangat tidak adil.

Lahirnya Putra Seorang Pandai Besi

Suatu hari di Teheran pada tahun 1956 lalu, lahir seorang bayi laki-laki di perkampungan Garmsar, tidak jauh dari kota Teheran. Tidak ada yang istimewa di bayi tersebut, yang diberi nama Mahmud Ahmadinejad. Dia juga bukan dilahirkan dari keturunan bangsawan ataupun ningkat, melainkan hanya seorang pandai besi. Lima puluh tahun kemudian bayi tersebut menjadi seorang presiden disebuah negara yang sejak dulu memang mewarisi keberanian dan keteguhan.

Masa kecil Ahmadinejad sangat berat dan memprihatinkan, bahkan karena kehidupan di perkampungan tersebut sangat sulit, ketika berusia satu tahun, keluarga tersebut akhirnya pindah untuk mencari kehidupan yang lebih baik ke Teheran. Ternyata Teheranpun bukanlah tempat yang lebih baik untuk mendapat kesempatan memperbaiki ekonomi. Setiap hari sepulang sekolah calon "Matahari Timur" ini ikut membantu ayahnya menempa besi. Meski ekonomi keluarga yang sulit orang tua Ahamadinejad tetap berusaha keras untuk menyekolahkan anaknya.

Keteguhan, ketabahan, dan mental baja dari orang tua itu rupanya diwarisi oleh Ahmadinejad, sampai akhirnya pada tahun 1976 Ahmadinejad masuk Universitas Ilmu Teknologi Iran (IUST) Jurusan Teknik Sipil. Sejak itulah mulai muncul idealime dan sensitifitasnya terhadap kondisi bangsa Arab pada umumnya. Pemikiran-pemikirannya banyak diterima teman-teman seangkatannya yang sangat mewarnai kehidupannya ditempat kuliah. Di kampus dia aktip berorganisasi, bahkan pada tahun 1980 Ahmadinejad menjadi ketua perwakilan IUST di persatuan mahasiswa Iran. Ahmadinejad juga ikut terlibat dalam pendirian Daftar-e Tahkim-e Vahdat.

Setelah lulus dari S1 Ahmadinejad melanjutkan ke S2 di kampus yang sama pada tahun 1986. Pada tahun itu juga saat pecah perang Iran - Irak rasa nasionalismenya mendorongnya untuk ikut dalam Korps Pengawal Revolusi Iran (Pasdaran). Meskipun bukan dari pendidikan militer tetapi Ahmadinejad bukan anak bawang dalam pasukan tersebut. Terbukti, dia beberapa kali terlibat aktif dalam berbagai operasi yang dilakukan di Kirkuk, Irak. Bekal patriotisme dan keberaniannya sangat mendukung karismanya pada belakangan hari.

Setelah selesai S2 dengan gelas MSc, sebagai seorang anggota Pengamanan Republik Islam Iran Ahmadinejad mendapatkan kesempatan untuk terus melanjutkan ke kejenjang S3 yang akhirnya mendapatkan gelas Phd untuk program teknik dan perencanaan jalan dan transportasi yang pada akhirnya membawanya menjadi profesor di Kampus IUST itu juga.

Karir Ahmadinejad terus menanjak dengan diangkat sebagai Kepala Teknik dalam Pasukan Keamanan Satuan Pengamanan Revolusionaris Islam dan Kepala Staf di provinsi barat Iran. Usai perang dengan Irak Ahmadinejad diangkat menjadi Penasehat Menteri Kebudayaan dan Panduan Islam. Bersamaan dengan jabatan tersebut dia juga menjadi gubernur di provinsi Aedabil, dari 1993 - 1997. Pada akhirnya masyarakat Iran mulai mengenal sosok pendobrak ini pada saat Ahmadinejad menjadi Wali Kota Teheran pada Mesi 2003. Jabatan inilah yang mengantarkannya menjadi presiden Iran.

Ketika menjadi walikota Ahmadinejad banyak melakukan transformasi dengan kesederhanaan dan keteguhannya. Dia tidak tinggal dirumah dinasnya yang cukup megah tetapi tetap tinggal di rumahnya yang sangat sederhana, begitu juga dengan mobil dinasnya yang tidak digunakan tetap tetap menggunakan kendaraan pribadinya yang cukup tua dan butut keluaran tahun 1977. Penampilan dan pakaian Ahmadinejad juga sangat sederhana, dia sangat menghargai keteranpilan tangan-tangan bangsa Iran yang merajut pakaian dan sepatunya. Bahkan kadang kaos kakinya bolong dengan sepatu yang bertapal sudah tipis dan miring. Dia pun menolak pemberian sajian pisang yang di Iran merupakan makanan istimewa dengan harga mahal. iantara kesederhanaannya yang lain ternyata dia juga akan menyapu jalan jika jalan yang dilewatinya dirasakan kotor. Ahmadinejad juga merasa gatal tangannya kalau melihat selokan yang mampat. "Dia bangga bisa menyapu jalan di Teheran," katanya.

Prestasi lainnya sebagai walikota Teheran adalah menurunkan kemacetan lalulintas di Teheran yang berpenduduk cukup besar dan padat. Jumlah penduduk dan luas Teheran lebih besar dibandingkan Jakarta. Transportasi yang ruwet di design ulang kembali menjadi jalur yang lebih efektif dan rapi. Ilmunya dalam bidang teknik sangat membekalinya. Pada tahun 2005 dari hasil pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat Teheran menyebabkan Ahmadinejad menjadi salah satu finalis 65 walikota terbaik dari seluruh penjuru dunia, sebagai wakil Asia yang merupakan salah satu dari 9 orang walikota di Asia.

Dalam suatu rapat kabinet (Di Iran seorang Walikota ikut rapat kabinet) Ahmadinejad berdebat keras dengan Presiden Mohammad Khatami, yang menurut Ahmadinejad Khatami tidak peka terhadap aspirasi penduduk Iran. Akhirnya dia dilarang untuk ikut dalam rapat kabinet. Hal inilah yang menyebabkan nama Mahmud Ahmadinejad semakin berkibar di hati penduduk Iran. Inilah babak baru bagi Ahmadinejad, karena pada pemilu Iran pada 24 Juni 2005 yang diikutinya ternyata menorehkan lembar sejarah Iran, dengan mencatat nama baru presiden Iran yang bernama Mahmud Ahmadinejad. Ketika dia memenangkan pemilihan umum melawan pesaingnya Ali Akbar Hashemi Rafsanjani secara mutlak 62%.

Pada rakyat Iran Ahmadinejad berpesan kepada penduduk Iran bahwa : "It's time for Iran to be strong again, and no time is better then now." Inilah saatnya bagi Iran untuk bangkit kembali dan tidak ada waktu yang lebih baik selain sekarang ini. Dalam masa-masa pemerintahannya banyak melakukan trobosan dengan memberantas korupsi. Dia juga mengembangkan ekonomi kerakyatan dengan mengimplementasikan perbaikan ekonomi yang menyentuh rakyat banyak. Hal inilah menyebabkan pengurangan jumlah orang miskin Iran selama masa pemerintahannya.

Rata-rata pendidikan masyarakat Iran juga sebagian besar generasi mudanya dapat menempuh pendidikan minimal S1. Ahmadinejad juga mendorong banyak kaum perempuan mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi. Jumlah profesor dan doktor perempuan di Iran sekarang ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia.

Jumlah profesor dan doktor perempuan di Iran sekarang ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia. Peran perempuan Iran juga dalam kancah politik, ekonomi dan sosial Iran sangat besar. Seperti hasil penelitian seorang peneliti wanita Jepang Keiko Sakura. Seorang sosiolog komparatif ini meneliti keterlibatan perempuan Iran di masyarakat terutama dalam bidang pendidikan.

Dapat lihat di sophiazahra.multiply.com. Hal ini tentunya bertentangan dengan tuduhan barat yang menyatakan bahwa perjadi pembatasan terhadap hak mendapatkan pendidikan bagi perempuan Iran.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta