Amerika Serikat (AS) yang dulu kuat secara ekonomi dengan memaksa dan menekan, bahkan dengan tindakan menyerang. Menyerukan agar semua negara masuk dalam ekonomi pasar bebas, dengan membuka keran import atas segala produk dan jasa apapun. Dengan menggunakan organisasi dan lembaga yang dikendalikannya, seperti IMF dan Bank Dunia.
Sekarang ini disaat ekonominya mulai mengalami kemunduran dan daya beli masyarakat AS menurun, tindakan-tindakan proteksi sangat mewarnai kebijakan ekonomi AS.
Menurut Kantor Berita Xinhua, Wakil Tetap Tiongkok untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Sun Zhenyu di Jenewa menyatakan melesunya ekonomi AS mengakibatkan menanjaknya pikiran proteksionisme perdagangan di dalam negeri AS. Kalau tidak dicegah, pikiran tersebut akan mengancam perdagangan dunia dan sistem perdagangan multilateral global.
Selain itu Sun Zhenyu juga mengatakan di depan sidang WTO yang membahas kebijakan perdagangan AS, bahwa sentimen proteksionisme AS semakin meningkat yang dikhwatirkan akan diikuti juga oleh anggota-anggota WTO lainnya.
Perundingan Perdagangan Global putaran yang dilakukan di Doha akan terancam gagal dalam dalam kondisi kritis, akibat proteksionisme AS. Pada dasarnya proteksionisme tersebut berasal dari tuntutan Kongres AS.
AS adalah negara yang paling beruntung dan paling aktif mempromosi liberalisasi perdagangan global disaat menguntungkannya, tetapi akan melakukan proteksi pada saat yang tidak menguntungkan.
Apalagi sekarang ini sedang muncul suatu fenomena membanjirnya produk-produk masal dan murah China yang membasahi semua negara termasuk AS. Inilah yang sebenarnya membuat AS mulai berfikir ulang bahwa liberalisasi perdagangan hanya akan menguntungkan rivalnya saja, yaitu China.
Sekarang ini beberapa negara yang tergolong kuat dan mempunyai daya saing tinggi dalam perdagangan bebas justru datang dari Asia. Kenaikan ekspor (dan PDB) yang bagus di China, India dan Vietnam didukung oleh besar daya saingnya dalam bidang-bidang yang mendasar. Untuk India misalnya bidang IT (Information Technology), untuk China iklim investasi yang mampu menarik banyak sekali investor asing (Amerika, Jepang, dsb-nya).
Ekspor besar China ke Amerika Serikat datang dari ribuan perusahaan asing yang masuk China sebelumnya. Vietnam sekarang unggul karena buruhnya rajin sekali, masih murah, suka kerja dan tidak pernah mogok.
Rabu, 2008 Juni 11
Langkah AS Dalam Liberalisasi Perdagangan Menyurut Setelah Produk China Membanjiri Seluruh Dunia
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
http://www.indonesianvoices.com/
Our Friends Blog
Hengky-kik Seelaninfo Getbusinesshere Indonesia-Arab Shzainzy3 Shzainzy4 Shzainzy5 Fajarindra Ricoyourblogmate Adminkidnet Onemoredesign Shzainzy2 Cakyoudee Trik-internet Mylifeinitaly Maddy1325 Sarapras Tiklaton Kangmasprabu Andry-bloggers michaelmajolivan shzainzy diaryerna budi-hartanto inisialdr joy-godsgrace laros republikindonesia robotic-d.blogspot lauriliaw JurnalisPemudaRevolusionerIndonesia designhelp4you
Make Money as Home Money Come to Our Home
mrockm-ronz gulefendim danielmginting
Software Helper Design Help ipanks







0 komentar:
Poskan Komentar