INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 03 Juni 2008

Kapitalisme = Darwinisme + Machiavellisme

Oleh Heri Hidayat Makmun

Krisis kebangsaan yang kita alami semakin berlarut-larut. Ekonomi, keamanan, politik yang masih sebatas pemenuhan kebutuhan untuk terlaksananya suatu demokrasi yang mahal dan banyak memakan aset bangsa ini. Secara ekonomi kita tertekan akibat warisan hutang yang besar dari masa orde baru.

Kita juga menambah hutang kita dalam usaha penanggulangan krisis moneter kita dengan adannya BLBI yang semakin menambah komitmen kita pada IMF, yang ternyata di belakang hari banyak melakukan tekanan-tekanan yang mengarahkan kita masuk pada jurang pasar bebas. Seakan dimanapun dibumi yang kita pijak ini tidak akan ada negara yang mampu untuk lepas dari pasar bebas, walaupun ternyata juga dibelakang hari kita lihat negara-negara yang dari awal dengan semangat mengusung panji-panji pasar bebas itu malah banyak memproteksi produksi dan pasar dalam negeri mereka. Terutama setelah raksasa pemproduksi masal ( China ), mengguyur semua negeri dengan produk-produk mereka yang sangat murah, dan bagi negara-negara kapitalis menyebut sebagai 'harga yang tidak masuk akal'. Mereka tidak sadar bahwa itulah kelemahan kapitalisme.

Tapi apa yang terjadi dinegeri ini, disaat negara-negara lain sudah memasang benteng pertahanan yang kokoh, walaupun masih terguyur basah juga. Kita malah secara bangga mengatakan ini adalah zaman globalisasi yang harus masuk kepasar bebas. Ada yang secara naif mengatakan mau tidak mau kita akan masuk ke pasar bebas. Para profesor lulusan Amerika juga lebih parah lagi dengan kesombongan akademik mereka berusaha menjelaskan secara meyakinkan tentang pasar bebas yang harus diikuti.

Apakah mereka tidak sadar bahwa sekarang ini setelah kondisi ekonomi dunia semakin timpang, dengan kesenjangan ekonomi yang sangat parah, maka kapitalisme justru mulai dipertanyakan kembali, karena ada suatu saat akan ada yang sangat kaya dengan nilai kekayaan 100% pada hanya segelintir 1% orang dan 99% penduduk lainnya hanya memiliki kekayaan 0%. Disaat itulah semua teori tidak ada artinya lagi karena semua orang yang lapar akan memberontak yang menyebabkan chaos sehingga hancurlah ekonomi dan politik suatu negara.

Secara filosofis kita mulai berfikir apa artinya sebuah negara? Apa artinya sebuat pemerintahan? Apa artinya keberadaan hukum? Jika akhirnya semua dilepas dan diserahkan kepada penguasa ekonomi dan konglomerat yang hanya menginginkan profit mereka saja. Akhirnya terjadi suatu kehancuran pada akhir dari suatu zaman dari suatu bangsa. Bisakah kita katakan bangsa Indonesia mulai menuju hal tersebut? Kenaikan harga minyak sebagai contohnya karena pada kenyataanya negara-negara ekonomi maju tidak mengalami hal yang terlalu berat seperti kita, karena mereka memiliki pondasi ekonomi yang kuat. Tetapi kita negara miskin ini semakin merana, dengan peningkatan kemiskinan, terhentinya kesempatan pendidikan bagi anak-anak bangsa kita dan tingkat kesehatan yang rendah.

Akhirnya bangsa kita semakin bodoh, kita semakin tak berdaya secara ekonomi, dan anak-anak kita semakin tidak sekolah, yang menyebabkan mereka semakin lebih tidak berdaya lagi dibandingkan kita. Lingkaran setan ini terus sampai hilangnya suatu generasi bangsa dari muka bumi. Bagi penjahat kapitalis itu hanya sebuah evolusi, yang memilih yang kuat untuk tetap bertahan dibumi dan mengeliminasi yang lemah. Lagi-lagi mereka sudah mempersiapkan suatu teori untuk memberi alasan yang logis, karena Darwinisme adalah kapitalisme, Kapitalisme adalah Darwinisme.

Kepitalisme dan Darwinisme memiliki prilaku yang sama bahwa : "yang kuat akan menggusur yang lemah, dan yang akan berkuasan sementara yang lemah akan punah". Dalam pemikiran mashab filosofis ini juga ada isme lain dalam klas yang sama yaitu “Machiavellistik” yang menghalalkan segala cara, tanpa ampun, anti Tuhan, anti kemanusiaan dan anti sosial. Cara-cara ini banyak digunakan di barat sejak zaman pertengahan sejak Niccolo Machiavelli lahir. Arah pemikiran Machiavelli beranjak pada bagaimana cara seorang raja mengatur negara dan kekuasaannya, sebuah rumus yang disarankan kepada seorang penguasa Lorenzo de Medici. Kondisi waktu itu menyebabkan kepentingan ekonomi merupakan hal yang sangat fundamental dalam membesarkan kerajaan.
Inilah awal yang menyebabkan bangsa-bangsa barat menyebarkan tentara keseluruh penjuru dunia untuk memulai sebuah penjajahan ke berbagai negara-negara Asia dan Afrika. Ini merupakan sejarah kelam kemanusiaan yang panjang dan menelan korban yang sangat banyak di Asia dan di Afrika sampai akhir abad ke 19.

Termasuk wilayah nusantara yang dimasuki oleh Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Belanda yang membawa "investor" bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dalam bahasa Indonesia berarti perserikatan perusahaan hindia timur, menanamkon modalnya dalam berbagai perkebunan rempah-rempah di Nusantara. Belanda dapat mencengkram Indonesia selama hampir 350 tahun dalam usaha pemerasan ekonomi yang tak terperikan.

Sampai sekarangpun penjajahan di dunia masih tetap ada, dalam motif-motif baru berupa penguasaan sumber-sumber mineral penting dan srtrategis seperti minyak bumi, gas, batu bara, panas bumi yang semakin langka, seperti yang terjadi di Timur Tengah, Amerika Selatan dan Asia Tenggara.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta