INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 03 Mei 2008

Strategi Propaganda Amerika Serikat

Kemajuan suatu negara sangat berkaitan erat dengan kemampuan berdiplomasi diluar negeri yang efektif. Kepentingan nasional berupa ekonomi dan politik dapat dijaga dengan strategi berdiplomasi. Tetapi berdiplomasi harus memiliki "nilai tawar" yang laku dijual. Bagaimana meningkatkan dan memperkaya nilai tawar? Salah usaha untuk itu adalah dengan melakukan propaganda.

Menurut Nancy Snow propaganda memiliki tiga karakteristik: (1) merupakan komunikasi yang disengaja, dan dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran; (2) Proganda dilakukan untuk menguntungkan kepentingan orang yang dituju; (3) merupakan informasi satu arah. ( Nancy Snow, 2003).

Salah satu semangat propaganda AS dapatlah kita telusuri dari berbagai pendapat dari analis barat mengenai propadanda. Smith Alhadar, kolumnis dan jurnalis. Berpendapat bahwa: "Pada saat ini semua rezim nasional menekankan bahwa kedaulaan nasionalnya telah memberinya hak untuk melakukan propaganda tertentu, sekalipun penuh kebohongan dan bertentangan dengan kebutuhan sistem dunia".

Undang-Undang Amerika, UU Smith - Mundt 1948, berisi larangan untuk melakukan propaganda ditujukan kepada rakyatnya sendiri. Tapi larangan ini pada kenyataanya tidaklah efektif, karena rakyat Amerika yang kritis justru yang melakukan anti propaganda pemerintahnya sendiri, karena itulah pada akhirnya propaganda oleh rejim yang berjalan selalu dilakukan juga kepada rakyatnya sendiri. Media Amerika merupakan media yang sangat terkontrol pemerintah. Film-film yang diciptakan diwajibkan untuk memunculkan bendera Amerika dalam beberapa detik, demikian juga radia-radio swasta Amerika harus mendukung propaganda pemerintah dengan memberi jatah waktu untuk VOA. Bahkan VOA masuk ke media-media berbagai negara di dunia. Di Indonesia dapat ditonton di MetroTV dan Indosiar.

Anehnya lagi media-media masa Amerika melihat kepentingan dirinya identik dengan kepentingan pemerintahnya, ikut dan aktif terlibat dalam propaganda tersebut baik kepada publik sendiri maupun kepada masyarakat internasional. Sebagai contoh ketika Amerika ingin menginvansi Iran dan menjatuhkan Saddam Hussein dari kursi kekuasaanya. Media Amerika secara seragam melaporkan berbagai kejahatan dan banyak keburukan lain yang dilakukan Saddam Hussein. Bahkan media seperti Al-Jazeera yang selalu berbeda pendapat dilarang oleh pemerintah. Banyak wartawan Al-Jazeera yang masuk Guantanamau, dengan tuduhan melakukan terorisme, yang lebih tragis lagi kantor berita Al-jazeera di Irak ikut di bom. Embargo informasi juga dilakukan kepada stasiun jaringan informasi internasional seperti PressTV.

Untuk audiens luar negeri, pemerintah Amerika mempunyai lembaga yang khusus melakukan propaganda. Lembaga ini bernama Committee for Public Information (CPI), didirikan pada 1917 ditengah berkecamuknya Perang Dunia I. Usaha-usaha badan ini sangat efektif untuk mendukung kebijakan apapun rejim yang berkuasa. Akhirnya CPI diupgrade menjadi Badan Informasi Amerika (USIA) mengingat potensi dan efektifitas dalam mencapai tujuan dan misi pemerintah. Badan koordinasi dan informasi Amerika di Indonesia yang menjadi jembatan USEA adalah USIS (United State Information Services) di Indonesia disebut Pelayanan Informasi Amerika (PIA). USIS di Indonesia memiliki program Fulbright, kunjungan internasional, program informasi, dan siaran internasional yang meliputi jaringan televisi dan radio VOA (Voices of Amerika). USIA menyebutnya untuk urusan luar negeri sebagai public diplomacy sebagai penganti istilah propaganda yang memiliki konotasi buruk.

Anggaran yang diterima USIA untuk menjalankan misinya sejak berdirinya rata-rata mencapai US$ 1 milyar per tahun yang berasal dari pembayar pajak Amerika. Ironisnya banyak rakyat Amerika yang tidak tahu keberadaanya. Memang lembaga ini merupakan salah satu rahasia yang dijaga ketat.

Salah satu keberhasilan USIA adalah memenangkan hati komunitas internasional guna mendukung kepentingan gedung putih, khususnya selama krisis Irak - Amerika ( 1990 - 2003 ). Sejak invasi Irak ke Kuwait pada 2 Agustus 1990, yang berujung pada perang Irak melawan pasukan multinasional pimpinan Amerika Serikat.

Isu senjata pemusnah masal ( WMD = Weapons of mass destruction ) selalu diangkat dalam berbagai pidato di hadapan personil militer di Pantagon, Gedung Putih, PBB dan pada pertemuan-pertemuan internasional. Presiden Bill Clinton menyatakan tujuh tahun penundaan dan muslihat oleh Irak mengenai inspeksi sejata sejak menyerah pada Perang Teluk. Ia sambil mengetuk meja berulang-ulang pada pertemuan evaluasi teknis yang dihadiri tenaga ahli dari negara anggota tetap DK PBB mengatakan: "Diantara senjata biologi yang dimiliki Irak adalah 5.000 galon botulinum, 2.000 galon anthrax, 25 hulu ledak rudal scud berisi senjata biologi dan 157 bom yang dapat meledak di udara." Pernyataan Clinton yang ekplisit ini berlainan dengan pemaparan tim inspeksi senjata (UNSCOM). Menurut UNSCOM baru sampai taraf curiga berkaitan dengan Baghdad tidak mampu membuktikan secara meyakinkan aktivitas yang berhubungan dengan isu tersebut.

Menurut Scott Ritter, seorang warga Amerika anggota UNSCOM. Bahwa infrastruktur dan alat produksi WMD Irak sudah dimusnahkan seluruhnya. Untuk membuktikannya tim monitoring WMD UNSCOM telah memasang alat monotoring yang dijaga ketat. Alat pendeteksi ini menggunakan teknologi canggih dengan kemampuan sinar gamma yang sensitif terhadap uranium dan plutonium.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa irak sudah tidak memiliki lagi infrastruktur WMD. Kecurigaan Amerika bahwa Irak akan bekerja kembali membangun infrastrukturnya adalah mustahil mengingat Irak telah jatuh miskin dengan utang luar negerinya mencapai US$100 Milyar sejak diembargo ekonomi yang dipaksakan DK PBB Tahun 1990.

Tetapi pada kenyataanya walaupun Irak secara fakta aman dari WMD, isu internasional tetap menunjukkan Irak pemilik senjata masal, cadangan uranium dan plutonoium, memiliki rencana akan mengekpansi negara-negara tentangganya. Seakan-akan fakta yang ada dilapangan tidak berarti apa-apa, karena dunia internasional telah terlanjur mempercayai propaganda Amerika yang dilakukan secara sistematis.

Media terkenal seperti The Washington Post pun malah ikut memberitakan informasi yang salah bahwa orang-orang Irak dengan menulis "were known to consider chemical as useful military tool" dan memberitakan juga bahwa pasukan Irak telah diberi alat dan dekontaminasi pasukan mereka sendiri dengan alat pelindung diri.

Menurut Nancy Snow Ada tiga tujuan utama propaganda Amerika dalam kaitannya dengan negara-negara Timur Tengah pada masa perang dingin Amerika - Uni Soviet : (1) Membendung pengaruh komunis Uni Soviet ke Timur Tengah; (2) Menjaga kelancaran aliran minyak Timur Tengah ke Amerika; (3) Menjaga superioritas militer Israel atas negara-negara Arab. Sampai sekarangpun propaganda ini masih terus berjalan walaupun perang dingin telah selesai.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta