INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 02 Mei 2008

Persaingan Dua Raksasa Asia Timur

Oleh Heri Hidayat Makmun

Tidak ada negara di Asia yang tidak terpengaruh akibat sejarah dan masa lalu China dan Jepang. Dua negara berkulit kuning ini sebenarnya berasal dari satu rumpun dan memiliki pertalian kebudayaan yang kuat. Sebagai contoh orang-orang Jepang sebagian besar hapal dengan puisi-puisi T'ang yang dipelajari disekolah. Demikian juga tradisi minum teh Jepang yang banyak dilakukan di China.

Kedua negara yang terpisah pulau-pulau di laut China Timur ini, walaupun memiliki kedekatan kebudayaan dan Letak geografis kedua negara yang sangat dekat, tetapi lokasi geogragis mereka ini justru menimbulkan pergesekan kepentingan politik, ekonomi dan keamanan masing-masing negara. Walaupun kedua negara tidak mempunyai batas-batas daratan, tetapi Shanghai China dengan Okinawa Jepang hanya berjarak kurang dari lima ratus mil.

Kedua negara ini saling mengklaim sekelompok pulau Kepulauan Senkaku, sebutan bagi orang Jepang, sedangkan bagi orang China disebut Diauyutai. Kepulauan itu terletak diantara kedua kota besar tersebut. China yang menjadikan kota Shanghai sebagai kota besar bisnis, sedangkan Jepang menjadikan Okinawa sebagai basis militer. Tentara Amerika juga ikut berbasis di kota ini dan menjadikan kota ini sebagai pusat pemantauan terpenting bagi Pantagon untuk terus memata-matai China.

Kepulauan Senkaku atau Diauyutai dikenal sebagai daerah yang mempunyai cadangan minyak yang sangat besar. Kedua negara pada tahun 1974 hampir terlibat perang untuk mengakui kepulauan ini, dan sampai sekarangpun konflik perebutan kepulauan itu masih terus berlangsung.

Dalam kondisi kenaikan harga minyak dunia yang terus "menggila" kecemasan kedua negara ini, atas krisis bahan minyak pada masa yang akan datang, meningkatan ketegangan Cina dan Jepang tentang kepemilikan pulau-pulau tersebut.

Dalam jangka panjang perseteruan ini menimbulkan perlombaan senjata di Asia Timur. Hal ini terlibat mulai beralihnya penguatan militer China dari naga daratan menjadi naga lautan. Para analis yakin perubahan formasi kekuatan ini ada kaitannya dengan krisis jangka panjang di Laut China Selatan.

Demikian juga Jepang yang semakin menggantungkan kekuatan militernya pada kekuatan kapal selam. Amerika selaku penyokong Jepang selalu siap menyediakan teknologi baru untuk kepentingan keamanan Jepang. Hal inilah yang menyebabkan tentara Amerika masih akan terus memiliki kesempatan untuk bercokol di negara tersebut, walaupun rakyat Jepang sendiri sangat menentangnya. Apalagi paska terjadinya perkosaan yang dilakukan marinir Amerika.

Selain masalah sumber energi konflik China - Jepang juga dipengaruhi oleh kondisi politik korea dan Taiwan. Korea Selatan dan Korea Utara, kedua bersaudara yang pernah terlibat perang Korea ini tetap saja sulit untuk bersatu. Korea Selatan yang dibackup Amerika dan Jepang, sedangkan Korea Utara yang masih perlindungan Cina. Bagi Jepang keberadaan Korea Utara yang memiliki dan mengembangkan senjata nuklir, sebagai "pisau belati yang mengarah kejantung" (Mengutip istilah Ito Hirobumi seabad yang lalu).

Taiwan yang secara historis merupakan bagian dari China Raya, dan menjadi bagian dari kekaisaran China sejak abad ketujuh. Sebagian besar penduduknya ingin lepas dari daratan (istilah daratan untuk sebutan Cina). Dalam perkembangan kedepan Taiwan memiliki potensi yang besar untuk berkembang secara ekonomi. Hal ini yang mengikat China untuk mempertahankan Taiwan. Lagi-lagi Amerika selalu ikut campur dimana saja, dengan ikut terlibat dalam upaya-upaya pelapasan Taiwan dari China. Hal ini tentu saja mendapatkan dukungan Jepang.

Sejarah Taiwan adalah selalu sejarah pemberontakan terhadap China. Taiwan sejak dulu menjadi tempat para perompak dan bajak laut, yang sulit untuk di musnahkan oleh militer Kaisar Ming. Disini juga tempat hidup para pendekar pembelot terhadap kekuasaan Ming. Dipulau ini juga pernah dijadikan pos militer Spanyol dan Belanda. Taiwan juga secara histori tidak pernah menyerahkan otoritas kepemerintahannya ke China sampai tahun 1683. Pada waktu itu Dinasti Shilla dari Korea dan Dinasti Konfusius Yi yang didirikan tahun 1392 membayar upeti kepada Kekaisaran Cina. Saat inilah Taiwan benar-benar berada di bawah pemerintahan klasik China.

Selain aspek diatas perkembangan ekonomi China yang pesat, menimbulkan ketakutan Jepang. Jepang yang selama ini sangat mendominasi perbagai produk perdagangan dunia mulai tersingkir sedikit demi sedikit akibat penetrasi barang dagang China. Investasi Jepang pada berbagai negara. Utamanya di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang nilainya mencapai 30 milyar dollar ikut terancam. (IndonesianVoices).

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta