INTERNASIONAL NASIONAL

Kamis, 29 Mei 2008

Layakkah Harga BBM Dinaikkan?

Oleh : Heri Hidayat Makmun,SE,MM

Kenaikan harga minyak dunia yang ditentukan di New York membebani penduduk dunia. Kenaikan yang terjadi secara masif terjadi dari hari ke hari merupakan yang tertinggi dalam sejarah harga minyak dunia. Negara-negara yang tergantung pada import minyak (net import) tentu akan berdarah-darah.

Indonesia yang memproduksi sendiri sebesar 80% minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan 20% berasal dari import. Pemerintah dengan bemaksud tertentu atau memang sekedar informasi saja mengatakan bahwa kita merupakan pengimport murni (Net Import). Mungkin ini strategi untuk mendapatkan restu menaikkan harga BBM.

Sebenarnya jika kita kaji lebih jauh dalam struktur APBN kita yang terdiri dari pendapatan, belanja dan pembiayaan. Pada pos pendapatan dengan jenis rekening pendapatan sumber daya alam, yang didalamnya terdiri dari iuran hak pengusahaan hutan, provisi sumber daya hutan, dana reboisasi, iuran tetap, iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi, pungutan pengusahaan perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi. Pendapatan ini diluar pajak, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan yang sah.

Terlihat pendapatan sumber daya alam diluar minyak bumi ada gas bumi dan panas bumi. Khusus gas bumi yang merupakan komoditas subtitusi dari minyak bumi ternyata juga mengalamai kenaikan harga seiring dengan kenaikan minyak bumi. Indonesia sebagai negara yang paling kaya gas bumi, bahkan ada peneliti yang mengatakan bahwa manusia Indonesia tidur di atas gas bumi dan panas bumi.

Indonesia memiliki pipa gas bawah laut ke Jepang dan beberapa negara tetangga. Sayangnya komiditas energi andalan RI ini tidak nampak dalam wacana perdebatan kenaikan BBM di Indonesia yang riuh rendah. Seakan-akan gas tidak memiliki nilai jual yang meyakinkan. Padahal sebagai produk subtitusi dari minyak bumi maka harga gas alam dunia akan mengikuti perkembangan minyak bumi. Bukan saya berburuk sangka dengan pemerintah tetapi terkesan ditutup-tutupi untuk melancarkan kenaikan harga BBM dalam negeri.

Selain itu mengapa juga kita yang memproduksi 80% minyak untuk konsumsi sendiri harganya dipengaruhi oleh harga minyak bumi import yang hanya 20% saja? Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi nusantara ini sebagaimana diundangkan dalam UUD 1945 dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, tetapi mengapa pemerintah begitu menguasainya? Besar anggaran tidak terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat, karena proses transfer nilai dari APBN ke rakyat banyak mengalami banyak kebocoran.

Bagaimana Ibu Sri Mulyani?

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta